Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inflasi Januari Diprediksi 0,42%, Terdorong Kebijakan Pemerintah

Inflasi didorong kenaikan komponen produk dengan harga bergejolak dan harga diatur pemerintah.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 31 Januari 2020  |  18:57 WIB
Pedagang menunjukkan cabe kriting di Pasar Tradisional Mandonga, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (2/5/2019). - ANTARA/Jojon
Pedagang menunjukkan cabe kriting di Pasar Tradisional Mandonga, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (2/5/2019). - ANTARA/Jojon

Bisnis.com, JAKARTA - Inflasi pada Januari 2020 diprediksi 0,42 persen.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menyebutkan dengan estimasi ini maka inflasi berada pada tingkat cukup rendah dan tetap stabil. Bencana yang terjadi pada sejumlah wilayah mendorong kenaikan pada komponen inflasi pada produk dengan harga bergejolak dan inflasi harga diatur pemerintah.

"Inflasi bulan Januari 2020 diperkirakan meningkat sebesar 0,42 persen month-on-month (m-o-m) dari yang tercatat [bulan sebelumnya] 0,34 persen [m-o-m]," katanya ketika dihubungi, Jumat (31/1/2020).

Dengan mempertimbangkan tahun dasar baru 2018 pada inflasi, maka inflasi tahunan pada Januari mencapai 2,66 persen (y-o-y).

Inflasi harga bergejolak didorong kenaikan beberapa harga komoditas pangan, antara lain beras, bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan cabai rawit. Sementara, inflasi harga diatur pemerintah didorong kenaikan tarif cukai rokok serta iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

"Adapun, inflasi inti cenderung stabil di kisaran 3,02 persen (yoy) mempertimbangkan tren kenaikan harga emas. Sementara nilai tukar rupiah cenderung mengalami apresiasi sepanjang Januari," ungkapnya.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David E. Sumual memprediksi inflasi Januari 2020 terpengaruh bencana dan cuaca.

"Kami memprediksi inflasi pada Januari 2020 berkisar di angka 0,47%. Adanya banjir dan cuaca buruk akan berdampak pada harga bahan pokok di pasar," katanya.

Beberapa bahan pokok yang berkontribusi terhadap inflasi, antara lain cabai merah dan bawang merah. Komoditas beras tidak terlalu menyumbang inflasi karena harga di pasar cenderung stabil.

Meski demikian, dia mengingatkan pemerintah untuk menstabilkan gejolak harga bahan pangan dengan cara memperbaiki jalur distribusi saat terjadi bencana atau cuaca buruk. Dia menilai inflasi akan bergerak seiring menguatnya nilai tukar rupiah.

"Penguatan rupiah terhadap dolar Amerika berpengaruh positif pada inflasi," jelasnya.

Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sabijantoro mengatakan basis inflasi Indonesia akan menjadi tolok ukur untuk 2018 karena Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan pembaruan rutin setiap tahun. Pada 2020, Indonesia akan menggunakan 835 komoditas dengan proporsi 33 persen berbanding  67 persen antara makanan-bukan makanan  dari sebelumnya 35 persen berbanding 65 persen.

Keranjang inflasi baru memasukkan kontribusi layanan penitipan anak (day care), layanan karaoke, dan transportasi online (Gojek dan Grab).

"Rencana Kementerian Perhubungan untuk menaikkan tarif online dua roda menjadi Rp2.500 per kilometer, dari sebelumnya Rp2.000, juga dapat mendorong inflasi harga," imbuhnya.

Selain itu, dia juga memprediksi implementasi aturan kenaikan cukai rokok sebesar 23% pada awal 2020 akan berdampak signifikan terhadap pergerakan inflasi.

Satria memperkirakan kenaikan cukai rokok 23% dapat menambah inflasi sebesar 0,30% - 0,45% pada 2020.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi minggu keempat bulan Januari sebesar 0,42% (month to month) dan 2,82% (year on year).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan inflasi minggu keempat Januari ini lebih rendah dari rata-rata inflasi pada periode yang sama dalam lima tahun terakhir yakni sebesar 0,64%.

"Nah, tekanan harga [inflasi] karena pengaruh musim hujan ke panen bawang, cabai, beras, dan sayuran," ujar Perry.

Sementara itu, deflasi disumbang oleh penurunan harga angkutan udara, bensin dan daging ayam. Dengan pergerakan inflasi tersebut, Perry menyebut Bank Indonesia meyakini target sasaran inflasi tahun ini, 2%-4%, akan tercapai.

Perry menambahkan tekanan inflasi volatile food juga berkurang dipengaruhi sinergi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) sehingga dapat mengurangi tekanan gejolak harga pangan saat terjadi kenaikan permintaan dan/atau penurunan pasokan.

Sementara itu, inflasi administered prices tercatat rendah sejalan minimalnya kebijakan terkait tarif dan harga barang dan jasa yang diatur Pemerintah. Ke depan, Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga sehingga inflasi IHK 2020 tetap terjaga dalam kisaran sasarannya sebesar 2,0% - 4%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi Pertumbuhan Ekonomi
Editor : Anggara Pernando
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top