Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Realisasi Investasi Kimia dan Farmasi 2019 Melorot

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri atau PMDN tercatat Rp9.484,91 miliar dengan 977 proyek, sementara realisasi Penanaman Modal Asing atau PMA senilai US$1.486,41 miliar dengan 1.280 proyek.
Pekerja farmasi beraktivitas memproduksi obat di pabrik Pfizer Indonesia, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019)./ANTARA-Indrianto Eko Suwarso
Pekerja farmasi beraktivitas memproduksi obat di pabrik Pfizer Indonesia, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019)./ANTARA-Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA —Realisasi investasi industri kimia dan farmasi sepanjang 2019 mengalami tekanan, terutama yang berasal dari penanaman modal dalam negeri. 

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis realisasi industri sektor kimia dan farmasi sepanjang 2019.

Hasilnya, Penanaman Modal Dalam Negeri atau PMDN tercatat melandai dengan penurunan 28,8 persen menjadi Rp9.484,91 miliar dengan 977 proyek dibanding periode 2018 Rp13.337,72 miliar dengan 638 proyek.

Adapun dari Penanaman Modal Asing atau PMA juga turut anjlok 23,3 persen menjadi US$1.486,41 miliar dengan 1.280 proyek dibanding periode 2018 US$1.938,34 miliar dengan 1.0001 proyek.

Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Anorganik (Akida) Michael Susanto Pardi menilai investasi dari PMDN menurun drastis disebabkan oleh sejumlah faktor.

Menurutnya, industri kimia PMDN mengalami serangan dari impor, sedangkan proteksi terhadap import sangat lemah. Proteksi tarif maupun non tarif masih belum diimplementasikan secara komprehensif.

"Impor barang-barang kimia sangat mudah ke indonesia. Salah satu andalan pemerintah untuk proteksi contohnya adalah menerapkan SNI wajib terhadap barang-barang kimia, sampai hari ini baru ada lima jenis kimia yang SNI wajib," katanya, Kamis (30/1/2020).

Menurut Michael sekarang memang tengah di proses untuk ditambahkan, tetapi hanya sekitar lima hingga 10 jenis produk kimia lagi dalam dua tahun ini. Sementara, jenis produk kimia yang diimpor berjumlah ratusan jenis.

Adapun, jenis proteksi non tarif lain seperti pelabuhan terbatas juga belum dijalankan di industri kimia. Menurutnya, TKDN masih terbatas kepada perusahaan-perusahaan pemerintah saja.

Selain itu, Michael menambahkan, industri kimia sangat rentan mengalami gangguan dari masyarakat maupun LSM karena diduga sebagai sumber pencemaran, padahal industri kimia adalah industri yang sangat tertib, karena pada dasarnya pelaku industri adalah yang paling mengerti dan menguasai ilmu kimia.

Alhasil, pabrik-pabrik industri kimia khususnya yang tergabung dalam Akida mempunya pengolahan produksi maupun sisa produksi yang sangat komprehensif dan mengikuti regulasi pemerintah yang ada.

"Kemudian faktor harga gas di indonesia yang lebih tinggi dari negara-negara tetangga ataupun negara China. Rerata gas berkontribusi 20%-30% dari biaya produksi di industri kimia," ujar Michael.

Sementara itu, investasi yang rendah juga akibat banyak sekali peraturan daerah dan peraturan antar Kementerian yang tumpang tindih yang harus diikuti oleh industri kimia sehingga ini menimbulkan biaya tambahan dan memakan waktu banyak.

Faktor terakhir adalah lokasi pabrik kimia dan customer pengguna kimia dasar terletak tersebar dengan jarak cukup jauh yang menyebabkan biaya logistik tinggi. Belum lagi, apabila barang tersebut harus dikirim antar pulau.

Michael menyebut biaya kirim kontainer misal dari Jakarta ke Medan, jauh lebih mahal daripada Jakarta ke Jepang.

Menurutnya, belum adanya kawasan industri kimia yang terintegrasi dengan pelabuhan laut, sehingga untuk impor bahan baku ataupun eksoor barang jadi, ada tambahan biaya transportasi yang cukup tinggi.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper