Menakar Dampak Meredanya Perang Dagang Bagi Indonesia

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal memproyeksikan defisit neraca perdagangan masih akan terjadi, meski selisih angka menipis. Menurutnya, ketidakpastian global masih tinggi. Kesepakatan awal antara Amerika Serikat-China diproyeksi belum mampu menurunkan defisit neraca dagang.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 16 Januari 2020  |  10:41 WIB
Menakar Dampak Meredanya Perang Dagang Bagi Indonesia
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menghadiri pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA— Kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China diproyeksikan belum terlalu berpengaruh terhadap penurunan defisit neraca dagang Indonesia.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal memproyeksikan defisit neraca perdagangan masih akan terjadi, meski selisih angka menipis. Menurutnya, ketidakpastian global masih tinggi. Kesepakatan awal antara Amerika Serikat-China diproyeksi belum mampu menurunkan defisit neraca dagang.

“Kesepakatan tersebut belum menjamin, bahwa perang dagang akan mereda. Ini merupakan kesepakatan yang sifatnya hanya ngerem untuk sementara. Masih belum definitif menyiratkan akan menurunkan [neraca dagang],” jelas Faisal kepada Bisnis.com, Rabu (15/1/2020).

Pasalnya, berbicara soal perang dagang, lanjutnya, tidak hanya bicara perang dagang antara AS-China. Konsolidasi antara kedua negara tersebut dinilai tidak begitu signifikan mempengaruhi defisit neraca dagang.

“Karena penetrasi ekspor masih akan susah meskipun sudah mencapai kesepakatan. Sebetulnya, proteksi itu bukan hanya diakukan oleh China dan AS, tetapi juga negara mitra tujuan lainnya,” katanya.

Misalnya saja perang antara AS-Iran juga berimbas terhadap perdagangan minyak. Artinya, ketidak pastian global cenderung masih tinggi. Apabila harga minya melambung tinggi hingga US$80.000 per barel, maka akan mendorong defisit yang lebih tinggi.

Hanya saja, dia memproyeksikan secara akumulatif terbuka kemungkinan angka defisit menipis pada 2020. Menurutnya, hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa komoditas yang menjadi andalan ekspor dalam beberapa bulan terakhir menunjukan tren peningkatan harga, terutama pada crude palm oil (CPO). “Artinya hal ini bisa mendorong pertumbuhan ekspor, tadinya di 2019 mengalami kontraksi atau pertumbuhannya minus,” jelasnya.

Kendati begitu, Dia berujar dari segi ekspor Indonesia masih didorong oleh komoditas unggulan, sementara komoditas pendukung lain belum mengalami peningkatan. Belum lagi di sektor manufaktur juga masih biasa saja, belum mengalami percepatan yang berarti.

Selain itu, defisit neraca dagang masih akan terjadi lantaran dari sisi impor diproyeksikan juga akan berpotensi meningkat. Misalnya, dengan gencarnya infrastruktur juga dapat meningkatkan impor barang baku.

Sementara itu, ekonom Indef Enny Sri Hartati menilai defisit transaksi berjalan masih akan terjadi. Pasalnya, kinerja ekspor masih melorot seiring dengan harga komoditas yang turun. Belum lagi, lanjutnya, impor konsumsi juga meningkat. “Sehingga neraca perdagangan defisit, neraca jasa juga masih defisit,” kata Enny.

Bukan hanya itu, menurutnya neraca modal juga berpotensi floating. Menurutnya, hal tersebut dapat diselesaikan apabila terdapat Foreign Direct Investment/FDI. Dia menilai permasalahan saat ini pada kepastian investasi masih kurang. “Kepastian investasi harus diperbaiki, tidak selalu harus bergantung pada omnibus law,” katanya.

Padahal, Presiden Joko Widodo sebelumnya mengatakan bahwa Indonesia baru merdeka jika dapat menyelesaikan defisit transaksi berjalan tersebut. Menurut Enny, pemerintah perlu melakukan perbaikan di sektor riil, terutama di sektor pengolahan. “Itu bisa berpotensi untuk meningkatkan ekspor, sekaligus substitusi impor,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top