Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Defisit Transaksi Berjalan 2019 Berpotensi 2,7 Persen dari PDB

Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana mengatakan perkiraan ini mengingat kinerja perdagangan 2019 cenderung membaik dibandingkan dengan 2018 yang kumulatif mencatatkan defisit US$8,6 miliar. Oleh sebab itu memasuki 2020, dia yakin bahwa kinerja CAD akan membaik pada 2020.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  14:23 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pencatatan defisit pada neraca dagang Desember 2019 sekitar US$28,2 juta dan kumulatif 2019 defisit US$3,32 miliar diperkirakan membuat defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) mencapai 2,7% dari PDB.

Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana mengatakan perkiraan ini mengingat kinerja perdagangan 2019 cenderung membaik dibandingkan dengan 2018 yang kumulatif mencatatkan defisit US$8,6 miliar. Oleh sebab itu memasuki 2020, dia yakin bahwa kinerja CAD akan membaik pada 2020.

“Pemicunya adalah ekspor CPO dan masih landainya permintaan domestik yang akan mempertahankan impor tidak naik signifikan,” jelas Wisnu kepada Bisnis.com, Rabu (15/1/2020).

Dia memerinci, kenaikan ekspor pada Desember 2019 ini sebesar 1,3% (yoy) adalah berkat membaiknya sejumlah harga komoditas. Salah satu komoditas ekspor yang mencatatkan perbaikan harga adalah CPO, sayuran, dan buah-buahan.

Kinerja impor juga tak menunjukkan kenaikan yang signifikan, sebaliknya, terjadi kontraksi -5.6% (yoy). Penyebabnya, impor barang konsumsi naik tipis sebagai respon jelang Imlek awal 2020.

“Meski demikian, impor barang modal, dan bahan baku terpantau stabil tak banyak berubah bulan Desember,” terangnya.

Oleh sebab itu, dia juga menilai bahwa pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Januari 2020 pekan depan, suku bunga acuan berpeluang kembali ditahan pada level 5,00%.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto sudah menyatakan bahwa pada kinerja perdagangan Desember 2019 ini, ada kenaikan harga minyak mentah atau ICP US$63,26 per barel pada November 2019, menjadi US$67,18 per barel pada Desember 2019.

Meski begitu, beberapa komoditas nonmigas juga mengalami kenaikan harga yakni; minyak kelapa sawit, karet, timah, tembaga dan emas pada November 2019 ke Desember 2019. Sebagai contoh, minyak kelapa sawit naik 12,67% (mtm), harga karet naik 7,35% (mtm).

“Hal ini berpengaruh pada nilai ekspor karena 11,37% berasal dari lemak dan hewan nabati,” tutur Suhariyanto.

Beberapa komoditas yang turun harganya kata Suhariyanto antara lain; nikel, seng, coklat, batu bara, perak aluminium. Untuk harga batu bara terkontraksi -1,21% (mtm).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

defisit transaksi berjalan
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top