Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Teknologi Tertinggal, Industri Mainan Butuh Investasi Baru

Ketua Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) Sutjiadi Lukas mengatakan potensi pasar industri mainan di dalam negeri masih sangat besar.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 02 Januari 2020  |  21:56 WIB
Pameran mainan-ilustrasi - Bisnis.com
Pameran mainan-ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Industri mainan dalam negeri dinilai membutuhkan dukungan investasi baru dari luar negeri guna mengadaptasi teknologi terbaru dan meningkatkan kapasitas produksi.

Ketua Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) Sutjiadi Lukas mengatakan potensi pasar industri mainan di dalam negeri masih sangat besar. Peluang itu, katanya, belum mampu dipenuhi oleh pelaku manufaktur lokal.

Menurutnya, gap itu membuka jalan bagi impor produk mainan dari luar negeri. "Industri lokal masih belum mencukupi sehingga memang masih butuh impor. Kita butuh investasi baru, terutama dari luar negeri," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (2/1/2020).

Sutjiadi menjelaskan penanaman modal baru dari luar negeri dibutuhkan untuk mendorong transfer teknologi. Pemodal asing, khususnya asal China, diyakini memiliki pengetahuan dan peralatan terkini untuk meningkatkan produk mainan.

Tujuan itu, jelas dia, sejalan dengan upaya pemerintah untuk menjalankan revolusi industri 4.0. "Kita ingin menggandeng investor China untuk alih teknologi. Mereka sangat maju, sedangkan kita jauh tertinggal."

Investasi baru di sektor mainan, kata Sutjiadi, memang terbilang besar dengan kebutuhan dana mencapai Rp10 miliar per pusat produksi. Oleh karena itu pelaku industri lokal membutuhkan mitra pemodal asing.

Di sisi lain, dia menilai perusahaan mainan lokal sudah mulai melakukan aktivitas perakitan mainan dari bahan baku impor. "Karena biaya untuk produksi dengan alat terbaru butuh dana besar, maka mereka mulai dengan perakitan dahulu," katanya.

Guna mendorong masuknya investasi baru, Sutjiadi berharap pemerintah bisa mendorong iklim usaha yang lebih kondusif dengan kebijakan yang lebih sinkron antara pusat dan daerah. Hambatan dalam faktor-faktor tersebut membuat sejumlah pemodal asing urung merealisasikan niatnya untuk masuk ke Indonesia pada 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri mainan
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top