Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pembangunan Kilang Minyak Pertamina Dinilai Cepat

Bisnis.com, JAKARTA - Pertamina sudah melakukan berbagai tahapan pembangunan enam kilang, baik melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) ataupun Grass Root Refinery (GRR), beberapa di antaranya dinilai cepat progresnya.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 Desember 2019  |  15:09 WIB
Kilang Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah. - Reuters/Darren Whiteside
Kilang Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah. - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA - Pertamina sudah melakukan berbagai tahapan pembangunan enam kilang, baik melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) ataupun Grass Root Refinery (GRR), beberapa di antaranya dinilai cepat progresnya karena kurang dari target waktu.

"Kemajuannya memang cukup berarti,” kata Direktur Energy Watch Mamit Setiawan kepada media di Jakarta.

Mamit mengakui bahwa progres kilang Balongan termasuk cepat, dibandingkan target semula karena bisa menghemat waktu 1 tahun. Jika umumnya setelah penawaran Front-End Engineering Design (FEED) butuh dua tahun sebelum masuk proses Engineering, Procurement and Constructions (EPC), tetapi Pertamina bisa lebih cepat.

Begitu pula dengan kilang Balikpapan sudah memasuki tahap konstruksi. Menurut dia, pembangunan kilang memang tidak bisa seketika, karena perlu berbagai tahapan, dimana masing-masing tahapan membutuhkan proses waktu yang cukup lama. Bahkan, untuk mencari partner membutuhkan waktu mencapai 2 tahun-3 tahun.

"Tentu saja banyak tahapan dilalui. Akan ngebor saja banyak tahapannya, apalagi proyek strategis seperti ini,” ujarnya. Sementara untuk kilang Tuban, Mamit juga melihat adanya perkembangan yang sangat krusial, yaitu penjajakan partnership dengan Rosneft. Padahal seperti diketahui, salah satu tahapan awal yang paling sulit adalah pencarian partner itu sendiri.

"Pencarian partnership tersebut memang tidak mudah. Sebab, masing-masing pihak memiliki feasibilities study. Misal terkait nilai keekonomian dan nilai proyek, masing-masing memiliki pandangan berbeda. Jadi untuk Tuban, tinggal menunggu realisasinya dalam bentuk apa. Tetapi minimal bisa engineering-nya dulu," katanya.

Begitu pula ketika memasuki tahapan pekerjaan EPC, menurut dia, tidak serta merta setelah deal, langsung membangun, karena harus ada studi kelayakan lagi untuk tahapan engineering. Baru setelah itu melakukan design engineering, tambahnya, kalau sudah disetujui, kemudian tahap finalisasi lagi mengenai design engineering sebelum memasuki tahap konstruksi. "Itupun cukup lama. Jadi, memang banyak tahapan yang harus dilakukan," katanya.

Dari berbagai perkembangan itulah, Mamit menegaskan, bahwa Pertamina sebenarnya sudah menunjukkan kemajuan berarti, bahkan sebenarnya sudah memulai sejak lima tahun lalu. Ketika itu, Pertamina selalu berdiskusi dengan Dirjen Migas terkait percepatan pembangunan kilang melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grassroot Refinery (GRR).

"Jadi tetap ada pergerakan dari Pertamina untuk membangun kilang. Dan memang tidak semudah itu untuk membuat kilang agar teralisasi," katanya.

Hingga saat ini, Pertamina terus berupaya mempercepat pembangunan enam kilang, yaitu melalui RDMP dan GRR. Keenam kilang tersebut adalah Balongan, Balikpapan, Bontang, Tuban, Dumai, dan Cilacap.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina pt pertamina

Sumber : Antara

Editor : Bambang Supriyanto
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top