Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Polemik Ekspor Benih Lobster : Wacana Menteri Edhy dan Pedasnya Cuitan Susi

Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019 Susi Pudjiastuti terus melontarkan kritikan terkait wacana dibukanya keran ekspor benih lobster oleh penerusnya, Edhy Prabowo. 
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 17 Desember 2019  |  18:48 WIB
Petugas Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Surabaya menunjukkan benih lobster yang hendak diselundupkan dari Cilacap ke Surabaya di kantor Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Surabaya, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (18/4/2018). - ANTARA FOTO/Umarul Faruq
Petugas Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Surabaya menunjukkan benih lobster yang hendak diselundupkan dari Cilacap ke Surabaya di kantor Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Surabaya, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (18/4/2018). - ANTARA FOTO/Umarul Faruq

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019 Susi Pudjiastuti terus melontarkan kritikan terkait wacana dibukanya keran ekspor benih lobster oleh penerusnya, Edhy Prabowo. 

Sejumlah kritikan dilontarkan Susi melalui akun twitter pribadinya, @susipudjiastusi, sejak beberapa hari lalu. 

Pagi tadi, dalam postingannya Susi menyampaikan bahwa terdapat ribuan ragam jenis ikan, udang, krustasea, koral, dan masih banyak spesies lainnya di laut Indonesia. "Tapi dari 3 tahun yang lalu hanya omong: bibit lobster ekspor & budi daya? Penenggelaman kapal pencuri ikan? Kapal ikan asing/ex asing? Ada magnet apa yang sangat kuat," katanya. 

Dia melanjutkan Australia, India, China, dan kuba yang memiliki potensi lobster tidak mengambil bibitnya. Negara tersebut hanya mengambil dalam ukuran tertentu saja. 

Misal Australia, minimal mengambil lobster berukuran 1 pon atau 0,454 kilogram. Sementara lobster yang besar dijadikan indukan yang produktif.

"Mereka tidak budidayakan bibit, tidak ekspor bibit. Apakah karena mereka lebih bodoh dari kita?" cuit Susi.

Dia pun menyindir Edhy yang menyamakan ekspor benih lobster dengan pembukaan keran ekspor nikel. Adapun Edhy mengatakan keran ekspor nikel dibuka untuk menunggu perusahaan-perusahaan membuat pabrik pengolahan komoditas.

Susi menyebut nikel adalah sumber daya alam (SDA) yang tidak bisa diperbarui, sementara lobster adalah SDA yang bisa diperbarui dan bisa terus ada jika dijaga dengan serius.

TAK GENTAR

Sementara itu, Edhy Prabowo tak gentar menghadapi kritikan dari sejumlah pihak terkait wacana ekspor benih lobster. Menurutnya, hal tersebut sudah menjadi risiko yang harus dihadapi semua pengambil kebijakan. 

"Saya pikir ini hal yang lumrah. Mau dipojokkan, dituding terlibat penyelundupan, itu biasa, enggak usah panas," ujarnya, Senin (16/12/2019). 

Dia menilai tidak perlu takut mengambil dan menjalankan keputusan yang bertujuan demi kepentingan masyarakat dan kepentingan negara. "Apa saja yang akan menghantam, itu bagian penguatan rencana kami. Jadi, jangan pernah ragu," tegasnya.

Edhy menjelaskan wacana untuk mengekspor benih lobster demi mengakomodasi masyarakat nelayan yang hidupnya bergantung pada komoditas ini. Menurutnya, pemerintah tak mau abai terhadap kepentingan masyarakat tersebut. 

Meskipun begitu, dia menegaskan ekspor harus di dilakukan dengan ketentuan khusus, yakni jika negara tidak bisa besarkan sendiri sembari menunggu persiapan pembangunan infrastrukturnya. 

"Sambil menunggu ini, hitung berapa lama. Penangkap sudah ada, ya sudah kami kasih kuota [ekspor]. Tapi ini masih tataran kajian," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kkp Lobster
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top