Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Boeing Pertimbangkan Tunda Produksi 737 Max

Dilansir melalui Bloomberg, seorang sumber mengungkapkan bahwa para eksekutif di Boeing beranggapan bahwa jeda sementara pada produksi jet tersebut akan menjadi kurang disruptif terhadap output produksi yang sudah lama tertekan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 16 Desember 2019  |  12:42 WIB
Boeing 737 MAX yang merupakan pesawat buatan Boeing yang paling banyak diminati. - Boeing
Boeing 737 MAX yang merupakan pesawat buatan Boeing yang paling banyak diminati. - Boeing

Bisnis.com, JAKARTA - Boeing Co. dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menghentikan sementara produksi 737 Max karena larangan terbang kemungkinan akan diperpanjang melampaui Januari 2020.

Dilansir melalui Bloomberg, seorang sumber mengungkapkan bahwa para eksekutif di Boeing beranggapan bahwa jeda sementara pada produksi jet tersebut akan menjadi kurang disruptif terhadap output produksi yang sudah lama tertekan.

Wall Street Journal melaporkan sebelumnya bahwa rencana penundaan produksi menjadi lebih mendesak setelah Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) mengisyaratkan tidak akan mengesahkan desain Max yang diperbarui tahun ini.

Sebuah keputusan dapat diambil segera pada Senin (16/12/2019), ketika direksi Boeing meninjau rencana produksi untuk program 737, sumber uang tunai terbesar perusahaan, sebagai bagian dari rapat dewan Desember yang dijadwalkan secara rutin.

"Kami terus bekerja sama dengan FAA dan regulator global untuk mendapatkan sertifikasi dan kembali menjalankan pelayanan Max," kata Boeing melalui email, dikutip melalui Bloomberg, Senin (16/12/2019).

Boeing menambahkan bahwa perusahaan akan terus menilai keputusan produksi berdasarkan waktu dan kondisi untuk kembali ke layanan, yang akan didasarkan pada persetujuan peraturan dan dapat bervariasi berdasarkan yurisdiksi.

Produsen pesawat yang berbasis di Chicago ini telah menyusun rencana darurat untuk berbagai kemungkinan risiko karena larangan terbang Max telah berlangsung hingga sembilan bulan pascadua kecelakaan fatal yang menewaskan 346 orang.

Boeing memangkas produksi 737 sebesar 19% dalam beberapa pekan setelah tragedi Maret 2019.

Max dilarang terbang sejak kecelakaan kedua yang terjadi di Ethiopia pada 10 Maret 2019. Kecelakaan ini memicu larangan terbang terpanjang untuk pesawat buatan Amerika.

Sementara itu, biaya inventaris telah menggelembung ke rekor tertinggi ketika pabrik Boeing di Renton, Washington, terus memproduksi sebanyak 42 jet per bulan.

Menurut penghitungan oleh Chris Edwards, blogger produksi 737, larangan terbang yang juga menghentikan pengiriman pesawat menyebabkan Boeing menumpuk 380 unit pesawat yang baru dirakit di tempat penyimpanan.

"Penumpukan akan berlanjut jika produksi melambat dan bukannya dihentikan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

boeing
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top