Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar AS Lowong, Ini Sektor Manufaktur Indonesia yang Bisa Mengisi

Wakil Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan setidaknya ada lima sektor yang berpotensi besar di tengah perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 11 Desember 2019  |  07:00 WIB
Sejumlah pekerja melakukan pemilahan di pabrik pengolahan karet. - ANTARA
Sejumlah pekerja melakukan pemilahan di pabrik pengolahan karet. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah sektor manufaktur dinilai perlu dioptimalkan untuk mengisi celah potensi ekspor produk ke Amerika Serikat pada 2020.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan setidaknya ada lima sektor yang berpotensi besar di tengah perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Kelima sektor tersebut adalah tekstil, furnitur, elektronik, makanan dan minuman (mamin), serta produk karet.

Apindo, katanya, bakal mendorong sektor-sektor tersebut agar mampu memenuhi kebutuhan produk manufaktur di AS yang ditinggalkan China.

"Untuk 2020, sekarang kami sedang kumpulkan satu per satu. Kami ingin tingkatkan ekspor sesuai kebutuhan di sana, sehingga proses industri dalam negeri perlu dioptimalkan," ujarnya, Selasa (10/12/2019).

Untuk mengisi celah itu, Shinta mengatakan Apindo akan mendorong konsep sinergi antara pelaku industri besar, menegah, kecil dan bahkan mikro. Kebutuhan produk di AS, jelasnya, akan dipenuhi secara bersama-sama oleh seluruh pelaku usaha di sektor tersebut.

Menurutnya, skema itu akan memberdayakan pelaku industri kecil dan menengah yang sepanjang tahun ini banyak tertekan di dalam negeri.

"Kami ingin baurkan sehingga dampaknya sampai ke bawah. Yang kecil menjadi bagian supply chain yang besar," ujarnya.

Shinta mengatakan saat ini kebutuhan ekspor furnitur yang ditinggalkan China sangat besar di Negeri Paman Sam. Menurutnya, produk furnitur nasional cukup berdayasaing untuk memenuhi kebutuhan itu.

Produk mamin, tekstil, dan karet, katanya, juga bisa dipacu untuk memenuhi kebutuhan itu. Menurutnya, saat ini hanya sektor elektronik yang dihadapkan pada kendala lantaran saat ini masih banyak didominasi oleh pemain besar.

"Elektronik yang masih menjadi kendala. Untuk itu, kami akan dorong [sektor elektronik] lebih kepada supporting industry. Ini pekerjaan rumah agar pemain lokal, yang kecil-kecil juga bisa terlibat dengan memasok komponen tertentu."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur perang dagang AS vs China
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top