Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indikator Awal Ungkap Ekonomi China Melambat pada November

Beberapa indikator awal kinerja ekonomi China menunjukkan perlambatan lanjutan pada November.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 27 November 2019  |  09:18 WIB
Kontainer terlihat di Pelabuhan Yangshan Deep Water di Shanghai, China 6 Agustus 2019. -  REUTERS/Aly Song
Kontainer terlihat di Pelabuhan Yangshan Deep Water di Shanghai, China 6 Agustus 2019. - REUTERS/Aly Song

Bisnis.com, JAKARTA – Beberapa indikator awal kinerja ekonomi China menunjukkan perlambatan lanjutan pada November.

Data awal yang dihimpun oleh Bloomberg Economics dari pasar keuangan dan perusahaan-perusahaan menunjukkan berlanjutnya gambaran yang memburuk untuk kinerja perdagangan, sentimen manajer penjualan, dan harga pabrik (factory price).

Ketegangan China dengan Amerika Serikat (AS) memang telah mereda sejak kedua belah pihak mengumumkan pembicaraan menuju kesepakatan dagang “fase satu” bulan lalu.

Namun, indikator utama untuk arus perdagangan di Asia, ekspor Korea Selatan, masih berkontraksi hampir 10 persen dalam 20 hari pertama bulan November.

Meski mengalami perbaikan dari hasil terburuk dalam satu dekade yang dibukukan pada September, kontraksi pada November mengindikasikan bahwa perdagangan teknologi tinggi di seluruh kawasan itu masih bergulat menjelang musim belanja Natal.

Penurunan yang lebih cepat dalam harga barang-barang dari pabrik-pabrik China pada November juga menunjukkan lesunya permintaan domestik.

Jika efek deflasi itu berlanjut maka akan semakin membebani laba perusahaan di dalam negeri dan pada akhirnya menurunkan harga dan laba di luar negeri.

Sementara itu, manajer penjualan di perusahaan-perusahaan China melaporkan kondisi terburuk, dengan indeks utama dan sub-indeks untuk manufaktur dan jasa berada di bawah level 50 yang memisahkan pertumbuhan dengan kontraksi.

Menurut World Economics, tingkat kepercayaan bisnis berada di level terendahnya dalam 14 bulan dan seluruh indikator untuk manufaktur turun dari beberapa bulan terakhir.

"Mengingat permintaan global yang lemah dan ketidakpastian seputar pembicaraan perdagangan, pertumbuhan China harus lebih bergantung pada permintaan domestik. Namun, yang mengkhawatirkan, deflasi pabrik China berlanjut dan mendalam untuk bulan kelima,” papar Qian Wan dari Bloomberg Economics.

Kendati demikian, ada sedikit optimisme di antara bagian-bagian ekonomi yang paling terkena dampak ekonomi global. Dalam survei yang dilakukan Standard Chartered Plc., perusahaan-perusahaan yang fokus pada ekspor tampak lebih optimistis.

“Aktivitas produksi berakselerasi karena permintaan eksternal pulih sementara sub-indeks pesanan baru untuk perusahaan-perusahaan kecil yang berfokus di dalam negeri melemah,” terang Hunter Chan dan Ding Shuang dari Standard Chartered dalam laporannya.

“Sektor manufaktur mengungguli, indeks kinerjanya naik ke level tertinggi tujuh bulan, sementara indeks untuk sektor jasa turun,” sambungnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi china
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top