Konsumsi Bahan Bakar Fosil Meningkat, Polusi Global Bertambah

Polusi gas rumah kaca global dilaporkan meningkat untuk tahun kedua. Hal ini menempatkan dunia pada jalur untuk peningkatan lebih lanjut hingga 2040 kecuali pemerintah negara-negara dunia mengambil tindakan radikal.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 November 2019  |  09:04 WIB
Konsumsi Bahan Bakar Fosil Meningkat, Polusi Global Bertambah
Gas rumah kaca. - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Polusi gas rumah kaca global dilaporkan meningkat untuk tahun kedua. Hal ini menempatkan dunia pada jalur untuk peningkatan lebih lanjut hingga 2040 kecuali pemerintah negara-negara dunia mengambil tindakan radikal.

Temuan dalam laporan tahunan Badan Energi Internasional (IEA) menggambarkan prospek yang suram bagi upaya pengendalian perubahan iklim dan menandai kemunduran bagi gerakan lingkungan yang semakin vokal.

“Pertumbuhan ekonomi yang kuat, permintaan listrik yang melonjak, dan peningkatan efisiensi yang lebih lambat berkontribusi pada peningkatan emisi karbon dioksida sebesar 1,9 persen dari energi pada tahun 2018,” papar IEA dalam sebuah laporan yang dirilis Rabu (13/11/2019), seperti dilansir melalui Bloomberg.

Tingkat emisi dikatakan harus mulai turun segera untuk membawa dunia sejalan dengan ambisi dalam Perjanjian Paris yang membatasi kenaikan suhu hingga jauh di bawah 2 derajat Celsius (3,6 derajat Fahrenheit) sejak revolusi industri.

Alih-alih, skenario yang paling mungkin dari IEA menunjukkan tujuan net-zero emission tidak akan tercapai hingga setidaknya tahun 2070, atau 20 tahun melewati batas waktu yang disarankan oleh para ilmuwan iklim.

Ini menjadi indikasi lain bahwa upaya untuk mengalihkan dunia dari bahan bakar yang paling berpolusi bergerak terlalu lambat untuk berdampak besar pada pelestarian lingkungan.

Meski industri tenaga angin dan solar berkembang pesat, kehausan negara berkembang akan energi juga mengangkat konsumsi batu bara dan bahan bakar fosil lainnya sehingga mendorong lebih banyak polusi ke atmosfer.

Laporan itu juga menutup gagasan bahwa polusi dapat telah mencapai puncaknya. Setelah mendatar dari tahun 2014 hingga 2016, emisi karbon naik pada 2017 dan meningkat tahun lalu, menurut data terbaru tentang gas rumah kaca yang telah disusun IEA.

Protes di seluruh dunia atas kelambanan pemerintah dan kurangnya urgensi pada perubahan iklim telah mendorong langkah anggota-anggota parlemen untuk menetapkan target net-zero emission, terutama di Eropa.

Mereka berambisi untuk menyeimbangkan pertumbuhan di negara berkembang dan menyebarkan teknologi yang menyerap polusi yang tidak dapat dihindari.

Meski tindakan itu telah memengaruhi imajinasi publik di negara-negara barat, negara-negara di Asia dan Afrika terus melancarkan bahan bakar yang paling kotor sekalipun untuk memperkuat pertumbuhan mereka.

Negara-negara berkembang telah mengerahkan lebih banyak pembangkit batu bara bahkan ketika negara-negara industri berupaya menghapus bahan bakar ini.

Permintaan batu bara global naik untuk tahun kedua secara berturut-turut pada tahun 2018. Tiga perempatnya datang dari wilayah Asia Pasifik.

“Jika kebijakan batu bara global tetap tidak berubah, maka permintaan akan terus berkembang selama dua dekade,” jelas IEA.

Menurut IEA, diperlukan langkah pengurangan yang cepat dalam emisi guna menjaga agar kenaikan suhu tidak melampaui batas 2 derajat. Jika polusi mencapai puncaknya, akan ada kemungkinan 66 persen untuk mempertahankan kenaikan rata-rata global di bawah 1,8 derajat.

“Itu akan membutuhkan fokus yang luar biasa untuk menurunkan emisi global," pujar Fatih Birol, direktur eksekutif IEA.

Dalam skenario yang paling ambisius, IEA mengantisipasi dunia dapat mencapai target net-zero emission pada 2070, sekitar dua dekade setelah waktu yang diidentifikasi oleh para ilmuwan PBB sebagai sesuatu yang konsisten dengan menghindari dampak terburuk dari pemanasan global.

"Ada yang salah dengan sistem ketika investasi ke bahan bakar fosil terus berlanjut meskipun, menurut Perjanjian Paris, bahan bakar itu seharusnya dihapuskan pada tahun 2050,” tutur Mette Kahlin McVeigh, direktur Program Iklim di kelompok riset asal Swedia Fores.

“Entah kebijakan politik telah terlalu lemah atau dunia tidak meyakini bahwa hal itu perlu diubah,” sambung McVeigh.

IEA menegaskan kembali perlunya upaya carbon capture, usage and storage (teknik yang dapat digunakan dalam pengurangan karbon), untuk memainkan perannya dalam menurunkan emisi.

Pemerintah negara-negara dan industri telah semakin vokal tentang perlunya teknologi yang menghisap karbon dioksida dari cerobong asap. Beberapa di antaranya mengumumkan studi kelayakan dan uji coba yang bertujuan memulai proyek skala besar dalam satu dekade.

IEA melihat bisnis ini menangkap 2,8 miliar ton karbon per tahun pada 2050, dibandingkan dengan 0,7 miliar ton per tahun pada 2030.

“Ini menjadi seruan untuk koalisi besar yang meliputi pemerintah, investor, perusahaan dan semua pihak yang berkomitmen untuk mengatasi perubahan iklim,” pungkas Birol.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, emisi gas rumah kaca

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top