Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IMF: Pasar Timur Tengah Lebih Sensitif Terhadap Risiko Global

Dana Moneter Internasional (IMF) menyoroti peningkatan ketergantungan Timur Tengah dan Asia Tengah pada hot money.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 28 Oktober 2019  |  16:05 WIB
Kantor pusat IMF di Washington DC, AS. - Reuters/Yuri Gripas
Kantor pusat IMF di Washington DC, AS. - Reuters/Yuri Gripas

Bisnis.com, JAKARTA – Perubahan-perubahan dalam sentimen risiko global kemungkinan akan lebih berdampak negatif pada pasar di Timur Tengah dan Asia Tengah ketimbang di negara-negara berkembang lainnya.

Hal tersebut didasarkan pada laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyoroti peningkatan ketergantungan kawasan ini pada hot money.

Arus modal asing masuk (capital inflow) ke wilayah itu mencapai hampir dua kali lipat selama satu dekade terakhir, karena pergulatan pemerintah dengan harga minyak yang rendah mendorong masuk ke pasar obligasi untuk membiayai anggaran mereka dan defisit transaksi berjalan.

Sebaliknya, investasi asing langsung (FDI) jangka panjang justru telah turun hampir separuhnya.

“Meski dana tersebut memberi sebagian pemerintah sarana untuk menyumpal defisit yang relatif murah, pemerintah di tingkat lebih rendah dan transparansi perusahaan membuat mereka dua kali lebih sensitif terhadap perubahan minat risiko ketimbang arus masuk ke pasar berkembang lainnya,” terang IMF dalam laporannya, seperti dilansir melalui Bloomberg pada Senin (28/10/2019).

"Prospek globalnya adalah pertumbuhan yang lebih rendah dan meningkatnya ketidakpastian, termasuk karena ketegangan perdagangan yang tidak terselesaikan,” papar pemberi pinjaman yang berbasis di Washington ini.

Karena arus masuk ke kawasan tersebut sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan dalam ketidakpastian global, lanjutnya, ada risiko capital inflow menurun atau bahkan berbalik.

Temuan ini meningkatkan kebutuhan untuk melindungi kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah dari aksi jual global.

Menurut IMF, segala upaya harus fokus pada perbaikan keuangan publik dan memperkuat FDI, yang penurunannya lebih jelas di Timur Tengah dan Asia Tengah daripada belahan dunia lainnya karena prospek pertumbuhan yang lemah dan ketegangan politik.

Terkait hal tersebut, IMF merekomendasikan untuk melanjutkan konsolidasi fiskal. Sementara itu, suku bunga di negara-negara di mana tidak ada tekanan inflasi harus turun dan pemerintah perlu campur tangan untuk mengakumulasi cadangan.

Selain itu, pemerintah perlu memperkuat pengawasan dan regulasi keuangan serta menggunakan alat makroprudensial untuk memastikan stabilitas keuangan.

Capital inflow ke Timur Tengah dan Asia Tengah mencapai 20 persen dari total pasar negara berkembang (emerging market) atau melonjak dari 5 persen sebelum krisis keuangan global, menurut IMF.

Para penguasa di Teluk Arab memelopori dorongan untuk lebih banyak penjualan surat utang global dan berhasil menyertakan obligasi mereka ke dalam indeks-indeks pasar berkembang JPMorgan Chase & Co.

Salah satu rekomendasi laporan tersebut adalah untuk mengembangkan pasar keuangan lokal, yang sangat berbeda di seluruh wilayah.

“Kegagalan untuk bertindak menyebabkan krisis berikutnya dapat melukai seluruh wilayah, kaya dan miskin. Dengan demikian, prospek itu meningkatkan urgensi untuk memiliki serangkaian kebijakan komprehensif guna merevitalisasi FDI dan memitigasi risiko potensial dari aliran modal yang mengganggu,” tambah IMF.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global imf

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top