Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Aksi Protes Menjalar Di Penjuru Dunia, Investor Khawatir

Penyebaran aksi protes dan kerusuhan sipil yang mengkhawatirkan di penjuru dunia dalam beberapa pekan terakhir menjulang besar di radar pasar keuangan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 25 Oktober 2019  |  09:12 WIB
Seorang demonstran bersandar di tanah ketika ia dan demonstran lainnya memblokir jalan raya selama protes anti-pemerintah yang sedang berlangsung di pusat kota Beirut, Lebanon, 23 Oktober 2019. - REUTERS/Alkis Konstantinidis
Seorang demonstran bersandar di tanah ketika ia dan demonstran lainnya memblokir jalan raya selama protes anti-pemerintah yang sedang berlangsung di pusat kota Beirut, Lebanon, 23 Oktober 2019. - REUTERS/Alkis Konstantinidis

Bisnis.com, JAKARTA – Penyebaran aksi protes dan kerusuhan sipil yang mengkhawatirkan di penjuru dunia dalam beberapa pekan terakhir menjulang besar di radar pasar keuangan.

Kondisi ini memicu kekhawatiran investor akan adanya tekanan terhadap keuangan pemerintah, yang menjadi salah satu dari banyak konsekuensi.

Manajer dana dan analis risiko mencari benang merah antara sumber kemarahan rakyat yang kerap tidak terhubung di Hong Kong, Beirut, Kairo, Santiago, dan kota lainnya. Mereka menganggap kerusuhan ini sangat mengkhawatirkan menyusul tahun-tahun pertumbuhan ekonomi global yang moderat dan pengangguran yang relatif rendah.

Jika perekonomian global tergelincir kembali ke dalam resesi pertamanya dalam lebih dari satu dekade, seperti yang dikhawatirkan banyak orang, maka aksi protes di jalan hanya akan semakin dalam dan memaksa pemerintah-pemerintah yang didemo untuk meningkatkan pengeluaran guna meningkatkan lapangan kerja, pendidikan, perawatan kesehatan dan layanan lainnya untuk menenangkan mereka.

Pelonggaran fiskal yang dipaksakan di dunia yang sudah dibanjiri dengan utang dan menuju ke resesi lain dapat membuat kreditor dan pemegang obligasi tidak dapat menerimanya. Terutama untuk mereka yang memegang utang pemerintah sebagai asuransi terhadap resesi dan lindung nilai dari volatilitas.

"Aksi protes tidak dapat diprediksi oleh investor dan cocok dengan pola risiko politik yang meningkat yang telah mempengaruhi persepsi pasar di hampir semua belahan dunia," ungkap analis Standard Chartered Bank Philippe Dauba-Pantanacce, seperti dikutip Reuters.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

"Kekhawatiran investor akan meningkat ketika mereka melihat bahwa paket IMF atau janji-janji investasi dikondisikan sesuai dengan konsolidasi fiskal dan bahwa langkah-langkah penghematan pertama diikuti oleh protes besar-besaran."

Tekanan yang lebih umum terhadap pengurangan utang dan penghematan menimbulkan pertanyaan serius tentang bagaimana beban utang yang masih menjamur dapat dipertahankan, bahkan setelah intervensi bank sentral besar-besaran untuk menanggungnya dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF) bulan ini, setengah dari penurunan global yang sama parahnya dengan yang dipicu oleh krisis keuangan terakhir pada 2007-2009 akan menimbulkan utang perusahaan senilai US$19 triliun yang dianggap "berisiko", yang didefinisikan sebagai utang dari perusahaan yang pendapatannya tidak akan menutupi biaya pembayaran bunga mereka apalagi melunasi utang pokoknya.

Kebangkrutan yang meningkat di perusahaan-perusahaan "zombie" tersebut pada gilirannya berisiko memicu meningkatnya PHK dan lebih banyak lagi keresahan.

Marc Ostwald, analis global di ADM Investor Services, menganggap sejumlah aksi protes sebagai puncak dari banyaknya keluhan tentang ketidaksetaraan, korupsi, dan penindasan.

Ostwald mengatakan ada kekhawatiran bagi pasar keuangan yang telah menumpuk utang selama bertahun-tahun berkat pencetakan uang bank sentral dan pembelian obligasi. "Pada titik tertentu, dampak dari QE [pelonggaran kuantitatif] akan berjalan dengan sendirinya," kata Ostwald.

"Dan ketika banyak perusahaan zombie bangkrut, maka pemerintah akan menghadapi meningkatnya pengangguran dan akan meningkatkan utang untuk menopang perekonomian, terutama ketika kerusuhan sosial meningkat, seperti yang kita saksikan,” lanjutnya.

Dari puluhan gerakan protes yang muncul dalam beberapa tahun terakhir, berikut adalah beberapa gerakan yang paling menonjol.

Hong Kong

Hong Kong telah terpukul oleh demonstrasi yang telah berlangsung hingga 5 bulan yang kerap disertai kekerasan. Demo dipicu oleh RUU yang memungkinkan ekstradisi ke China daratan. RUU tersebut telah ditarik secara resmi tetapi mengakhiri kerusuhan karena hanya memenuhi satu dari lima tuntutan demonstran pro-demokrasi.

Pada Selasa (22/10), pihak berwenang mengumumkan langkah bantuan senilai HK$2 miliar (Rp3,59 triliun) untuk ekonomi kota tersebut, khususnya dalam industri transportasi, pariwisata, dan ritel.

Ini merupakan langkah kedua setelah pemerintah menggelontorkan paket kebijakan senilai HK$19,1 miliar (Rp34 triliun) pada Agustus untuk mendukung mereka yang kurang mampu serta kalangan bisnis. Menteri Keuangan Hong Kong juga mengatakan lebih banyak bantuan akan diberikan jika diperlukan.

Indeks Hang Seng, yang merupakan salah satu pasar saham paling besar di Asia, turun 12 persen sejak demonstrasi dimulai. Meskipun telah pulih selama dua bulan terakhir, Hang Seng masih tertinggal dari pasar saham utama lainnya.

Lebanon

Ratusan ribu orang telah membanjiri jalan-jalan di Lebanon selama hampir dua minggu terakhir, menyusul protes terhadap elite politik yang dianggap telah mendorong ekonomi sampai ke titik kehancuran.

Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri pada Senin (21/10) mengumumkan pengurangan separuh gaji menteri dan anggota parlemen secara simbolis, serta langkah-langkah ke arah penerapan kebijakan untuk memperbaiki keuangan negara yang dililit utang.

Pasar semakin khawatir bahwa negara akan mengalami kondisi gagal bayar. Obligasi pemerintah kini dijual dengan diskon 40 persen dan Credit Default Swaps, yang digunakan investor sebagai asuransi terhadap risiko-risiko tersebut, telah melonjak.

Irak

Faktor serupa berada di balik kerusuhan sipil yang mematikan di Irak yang meletus pada awal Oktober. Lebih dari 100 orang tewas dalam aksi protes keras di sebuah negara di mana banyak warga Irak, terutama anak muda, merasa mereka hanya merasakan sedikit manfaat ekonomi sejak militan ISIS dikalahkan pada 2017.

Pemerintah menanggapi dengan 17 poin rencana untuk meningkatkan perumahan bersubsidi bagi kaum miskin, tunjangan untuk para pengangguran, dan program pelatihan serta inisiatif pinjaman rakyat untuk kaum muda yang menganggur.

Extinction Rebellion (XR)

Gerakan yang dibesarkan di London ini mendorong perubahan politik, ekonomi, dan sosial untuk mencegah kehancuran terburuk dari perubahan iklim. Para demonstran XR mulai memblokir jalan-jalan dan menempati ruang-ruang publik utama akhir tahun lalu, dan setelah 11 hari protes berturut-turut pada April, pemerintah Inggris secara simbolis menyatakan keadaan "darurat" iklim.

Gerakan ini berkembang bersamaan dengan pertumbuhan aksi FridaysForFuture yang dipimpin oleh remaja Swedia, Greta Thunberg, yang mengajak anak-anak sekolah meninggalkan kelas pada hari Jumat.

Gerakan ini sangat kuat di Jerman dan pemerintah di sana baru-baru ini meluncurkan kebijakan 'Gruene Null' atau 'Green Zero' yang menetapkan bahwa setiap pengeluaran yang mendorong anggaran pemerintah menjadi defisit harus dilakukan pada investasi yang berfokus pada iklim.

Ketua Komisi Eropa yang akan datang, Ursula von der Leyen, juga telah memperkenalkan "Kesepakatan Hijau Eropa" yang ambisius yang akan mencakup dukungan senilai 1 triliun euro (US$1,11 triliun) untuk investasi berkelanjutan di seluruh Uni Eropa.

CEO Amazon Jeff Bezos bulan lalu berjanji untuk menjadikan perusahaan e-commerce AS ini bersih dari jejak karbon pada 2040.

Chili

Sedikitnya 15 orang tewas dalam demonstrasi di Chili yang dimulai karena kenaikan biaya transportasi umum, dan telah tumbuh atas kemarahan terhadap ketidaksetaraan ekonomi yang hebat serta sistem kesehatan, pendidikan, dan pensiun yang mahal yang dilihat oleh banyak orang tidak memadai.

Presiden Chili Sebastian Pinera mengumumkan serangkaian langkah ambisius pada hari Selasa yang bertujuan untuk mengatasi kerusuhan, termasuk dengan upah minimum yang dijamin, kenaikan dalam program pensiun negara dan stabilisasi biaya listrik.

Ekuador

Protes kekerasan pada awal Oktober memaksa Presiden Ekuador Lenin Moreno untuk membatalkan aturan yang memangkas subsidi bahan bakar yang telah ada selama empat dekade terakhir.

Pemerintah memperkirakan pemotongan tersebut akan menghemat anggaran pemerintah hampir US$ 1,5 miliar per tahun, membantu mengecilkan defisit fiskal sebagai bagian dari kesepakatan pinjaman IMF senilai US$ 4,2 miliar yang ditandatangani oleh Moreno.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

aksi protes finansial
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top