Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Batan dan PT Timah (TINS) Eksplorasi Logam Tanah Jarang di Mamuju

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bersama PT Timah Tbk. tengah melakukan eksplorasi kandungan mineral tanah jarang di Mamuju, Sulawesi Barat. 
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  14:46 WIB
Ekskavator mengangkut tanah ke truk di tambang terbuka milik PT Timah Tbk. di Pemali, Bangka, Indonesia, Kamis (25/7/2019). - Reuters/Fransiska Nangoy
Ekskavator mengangkut tanah ke truk di tambang terbuka milik PT Timah Tbk. di Pemali, Bangka, Indonesia, Kamis (25/7/2019). - Reuters/Fransiska Nangoy

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bersama PT Timah Tbk. tengah melakukan eksplorasi kandungan mineral tanah jarang di Mamuju, Sulawesi Barat. 

Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Batan Yarianto Sugeng Budi Susilo mengatakan eksplorasi telah dilakukan sejak 2013 dan masih berlangsung saat ini. Baru pada tahun ini, PT Timah ikut serta menjadi mitra dalam melakukan eksplorasi di wilayah tersebut. 

Lantaran eksplorasi masih dilakukan, belum dapat dipastikan berapa sumber daya maupun cadangan logam tanah jarang (LTJ) yang ada di lokasi tersebut. 

Meskipun demikian, dia menilai wilayah tersebut memiliki hampir ketujuh belas unsur logam tanah jarang, terutama yang diprediksi terbesar adalah lantanum sebagai bahan baku baterai mobil listrik. 

"2013 kita menemukan anomali radioaktivitas di Mamuju, Sulawesi Barat, sehingga tertarik. secara geologi disitu tidak ada uranium dan thorium. Saat ini kita sedang melakukan eksplorasi," katanya, Selasa (16/10/2019).

Sementara itu, diakuinya eksplorasi memang membutuhkan waktu lama untuk dilakukan karena proses yang diperlukan masih panjang. Saat ini, penambangan masih dilakukan pada kedalaman 3 sampai 4 meter. 

Eksplorasi dilakukan mulai dari studi geologi mengenai prospek wilayah, melakukan pengujian radiasi gama, pemetaan struktur geologi meliputi sejarah wilayah, survei geofisika, hingga pengeboran. 

Menurutnya, hingga saat ini pihaknya baru menemukan sumber daya tereka yang perlu pengujian lebih lanjut untuk memastikan kandungan logam tanah jarang di wilayah tersebut. Setidaknya dengan sumber daya tereka, masih ada kesalahan sebesar 30% hingga 40% dalam membuktikan kandungan sumber daya logam tanah jarang tersebut. 

"Luas yang kita teliti sudah ratusan hektare, terdiri dari banyak site. Eksplorasi memang prosesnya masih panjang," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pt timah tbk tanah jarang
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top