Bom Waktu Itu Bernama Sampah Labuan Bajo

Kita tentu tidak ingin apa yang terjadi di Pantai Maya di Pulau Phi Phi Leh, Thailand yang ditutup hingga 2021 menimpa Labuan Bajo.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  08:49 WIB
Bom Waktu Itu Bernama Sampah Labuan Bajo
Komodo - Istimewa

Beberapa kali nakhoda perahu cepat atau speed boat mengurangi kecepatan saat saya bersama rombongan wartawan tengah dalam perjalanan menuju Pulau Padar dari Pelabuhan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Speed terpaksa dikurangi karena perahu berpapasan dengan onggokan sampah yang terbawa arus laut dan angin. Tidak hanya potongan kayu dan serpihan ranting, tetapi juga botol minuman dan kemasan plastik lainnya tampak di antara tumpukan sampah. Entah dari mana datangnya.

Situasi yang hampir sama juga ditemukan di daratan. Di gang-gang sekitar Kampung Ujung, kawasan kuliner tak jauh dari pelabuhan, sampah plastik kerap terserak di jalanan. Ada yang sudah berwujud arang karena habis dibakar. Pada saat yang sama, jumlah tong sampah minim.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, NTT, mencatat produksi sampah di kabupaten yang terbentuk pada 2003 itu kini hampir 14 ton per hari. Padahal, volume sampah tahun lalu masih 12,8 ton per hari. Sampah itu berasal dari rumah tangga dan wisatawan.

Problem sampah di ujung barat Pulau Flores tersebut tidak lepas dari dampak perkembangan pariwisata yang begitu pesat sejak program Sail Komodo dibuka mulai 2013.

Setahun kemudian, jumlah wisatawan meningkat tajam. Penetapan Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 Destinasi Bali Baru—objek wisata yang potensial menjadi seperti Bali—pada 2016 semakin membuat jumlah pelancong terakselerasi. Jika pada 2013, jumlah turis domestik dan mancanegara 44.579 orang, maka 5 tahun kemudian jumlahnya sudah 163.807 orang.

Masalah sampah di Labuan Bajo sempat mengusik Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hadi Sucahyono.

BPIW selama ini merancang infrastruktur pendukung di 12 kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN). Labuan Bajo salah satunya, dengan anggaran infrastruktur pendukung pariwisata dari APBN sekitar Rp1 triliun pada 2020.

“Jika masalah sampah tidak ditangani baik, maka percuma pemerintah membangun infrastruktur pendukung pariwisata di sini,” katanya saat meninjau kawasan pejalan kaki di dekat Pelabuhan Labuan Bajo, akhir bulan lalu.

Sumber : Bisnis Indonesia

Tag : labuan bajo
Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top