Laporan Allianz : Utang Rumah Tangga Global Naik 5,7 Persen

Meski utang rumah tangga global tetap mengalami perlambatan, tapi rasio utang global tetap stabil berkat pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 23 September 2019  |  18:57 WIB
Laporan Allianz : Utang Rumah Tangga Global Naik 5,7 Persen
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Allianz Global Wealth Report 2019 melaporkan utang rumah tangga global naik 5,7 persen pada 2018.

Angka itu sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya, yang meningkat 6 persen. Namun, masih tetap jauh di atas rata-rata tingkat pertumbuhan jangka panjang yang sebesar 3,6 persen.

Meski demikian, rasio utang global (utang sebagai persentase PDB) tetap stabil di level 65,1 persen berkat pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Dalam laporan yang diterima Bisnis, Senin (23/9/2019), Allianz menyatakan sebagian besar wilayah mengalami perkembangan serupa dalam hal ini. Tetapi, Asia, tak termasuk Jepang, menjadi pengecualian.

Allianz menuliskan pertumbuhan yang terjadi memang melambat menjadi 13,8 persen pada 2018, dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 15,7 persen.

Namun, dalam 3 tahun terakhir saja, rasio utang melejit hampir 10 persen menjadi 52,4 persen. Kondisi tersebut terutama dipicu oleh China, yang rasio utangnya naik hingga 15 persen menjadi 54 persen.

Allianz Group Economist Patricia Pelayo Romero mengatakan dinamika utang di Asia, terutama China, patut jadi perhatian.

“Utang rumah tangga China relatif tinggi, seperti halnya, katakanlah, Jerman dan Italia. Kali terakhir, kenaikan pesat semacam ini terjadi di AS, Spanyol, dan Irlandia, beberapa waktu sebelum krisis finansial melanda. Namun, dibandingkan dengan kebanyakan negara berkembang, tingkat utang di China masih jauh lebih rendah. Masih ada waktu untuk menghadapi imbas pembangunan dan menghindari krisis utang,” paparnya dalam keterangan resmi.

Kuatnya pertumbuhan utang membuat aset finansial neto menyusut 1,9 persen menjadi 129,8 triliun euro pada 2018.
 
Penurunan drastis utamanya dialami negara-negara berkembang, yang menciut hingga 5,7 persen. Adapun negara-negara industri mengalami penurunan 1,1 persen dan Asia, kecuali Jepang, terpangkas hingga 6 persen.
 
Pada perkembangan lain, untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, jumlah populasi kelas ekonomi menengah secara global tidak mengalami pertumbuhan yakni di kisaran 1,04 juta orang pada 2018. Terbilang stagnan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
 
Dengan menyusutnya aset di China, Allianz menilai hal ini tidak mengejutkan. Pasalnya, kemunculan populasi baru kelas menengah selalu terkait dengan Negeri Panda.

Allianz mencatat hampir separuh kelompok populasi kelas menengah berasal dari China. Negara Asia Timur ini juga menyumbangkan 25 persen populasi kelas atas dunia.

Head of Insurance & Wealth Markets Allianz Group Arne Holzhausen menyebutkan peluang peningkatan kesejahteraan secara global masih cukup besar.
 
Dia menerangkan jika negara-negara berpenduduk besar lain, seperti Brasil, Rusia, Indonesia, dan terutama India, ingin mempunyai kekayaan dengan tingkat dan distribusi setara China, maka populasi global kelas ekonomi menengah akan bertambah 350 juta orang. Adapun populasi global kelas ekonomi atas akan bertambah sekitar 200 juta orang.
 
“Pada akhir 2018, distribusi kekayaan secara global akan lebih seimbang, dengan 82 persen total aset finansial neto dimiliki oleh 10 persen penduduk terkaya di seluruh dunia. Globalisasi dan perdagangan bebas kini bukan lagi suatu hal yang perlu dipertanyakan karena setiap orang berkesempatan meningkatkan kesejahteraannya,” jelas Holzhausen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi global, utang

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top