Minggu Ketiga September, BI Catat Deflasi 0,19%

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan secara kumulatif (yoy), inflasi tercatat 3,48%. Dia menyebut bahwa barang yang menyumbang deflasi pada September adalah cabai merah, dengan deflasi -0,21%, bawang merah -0,07%.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 20 September 2019  |  13:56 WIB
Minggu Ketiga September, BI Catat Deflasi 0,19%
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Bisnis.com, JAKARTA -- Berdasarkan Survei Pemantauan Harga sampai dengan minggu ketiga bulan September diperkirakan terjadi deflasi yaitu sebesar -0,19% (mtm).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan secara kumulatif (yoy), inflasi tercatat 3,48%. Dia menyebut bahwa barang yang menyumbang deflasi pada September adalah cabai merah, dengan deflasi -0,21%, bawang merah -0,07%.

"Produk yang lain agak besar besar daging ayam ras -0,05%. Ini seperti beberapa bulan lalu kami sampaikan kenaikan inflasi ini disumbang oleh cabai dan karenanya faktor musiman, bulan ini ada cabai sehingga terkonsentrasi," kata Perry di kompleks Bank Indonesia, Jumat (20/9/2019).

Melalui pemantauan tersebut, Perry menyatakan inflasi 2019 diprakirakan berada di bawah titik tengah kisaran sasaran BI 3,5±1% dan terjaga dalam kisaran sasaran 3,0±1% pada 2020.

Sebelumnya, Perry menyebut inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2019 tercatat 0,12% (mtm), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,31% (mtm). Adapun inflasi Agustus 2019 tercatat 3,49% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,32% (yoy). 

Inflasi yang terkendali didukung oleh inflasi inti yang tetap terjaga. Hal ini didukung ekspektasi inflasi yang baik seiring dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia menjaga stabilitas harga, permintaan agregat yang terkelola baik, dan pengaruh harga global yang minimal. 

Perry memerinci, kenaikan inflasi inti pada beberapa bulan terakhir lebih banyak dipengaruhi kenaikan harga emas global serta dampak lanjutan inflasi volatile food yang sempat meningkat. 

Selain itu perkembangan sampai Agustus lalu menunjukkan inflasi kelompok volatile food telah melambat, seiring dengan terjaganya pasokan bahan pangan. 

Sementara itu, untuk kelompok administered prices juga mencatat deflasi dipengaruhi oleh penurunan tarif angkutan, terutama angkutan udara. Hal ini akibat implementasi strategi maskapai pada masa low season.

"Ke depan, Bank Indonesia tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna memastikan terkendalinya inflasi," ujar Perry.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top