BI : Kebijakan Makroprudensial Dorong Pertumbuhan Konsumsi

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Juda Agung menyatakan kebijakan merelaksasi dan memberi insentif tambahan pada kebijakan makroprudensial yang diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, bertujuan untuk mendorong permintaan konsumsi rumah tangga khususnya untuk properti dan kendaraan bermotor.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 20 September 2019  |  12:27 WIB
BI : Kebijakan Makroprudensial Dorong Pertumbuhan Konsumsi
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 di Jakarta, Selasa (27/11/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari
Bisnis.com, JAKARTA -- Relaksasi atas kebijakan makroprudensial akan mendorong konsumsi rumah tangga guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Juda Agung menyatakan kebijakan merelaksasi dan memberi insentif tambahan pada kebijakan makroprudensial yang diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, bertujuan untuk mendorong permintaan konsumsi rumah tangga khususnya untuk properti dan kendaraan bermotor.
"Mudah-mudahan dengan effort dari sisi likuiditas, suku bunga, dari sisi makroprudensial ini akan mendorong suplai dan demand. Dengan endorong suplai dan demand kredit akan naik," katanya di Bank Indonesia, Jumat (20/9/2019)
Juda menyatakan dengan relaksasi makroprudensial yang disertai pemangkasan suku bunga acuan atau BI7DRR turun tiga kali, maka transmisi penurunan suku bunga kredit juga akan terjadi di semua sektor.
"Kita tahu transmisi kebijakan moneter selalu ada tidak langsung sekarang diturunkan, besok suku bunga bank turun biasanya suku bunga depositonya turun dulu baru melakukan adjustment," jelasnya.
Juda meyakini sejumlah stimulus yang diberikan oleh Bank Indonesia akan membantu pencapaian target ekonomi 5,1% tahun ini. 
Dengan demikian tahun depan pertumbuhan ekonomi juga bisa meningkat dalam target 5,1% sampai 5,3%.
"Target itu semua sudah menghitung atas dampak kebijakan moneter, makroprudensial dan kondisi perekonomian global," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi indonesia

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top