Apa Risiko Terbesar Ekonomi Dunia? Ini Jawaban Gubernur Bank Sentral Filipina

Apa risiko terbesar bagi perekonomian dunia saat ini? Bukan Brexit, bukan pula perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. Jawabannya adalah sosok orang nomor satu di AS, Presiden Donald Trump.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 19 September 2019  |  13:00 WIB
Apa Risiko Terbesar Ekonomi Dunia? Ini Jawaban Gubernur Bank Sentral Filipina
Gubernur Bank Sentral Filipina Benjamin Diokno. - Twitter @GovBenDiokno

Bisnis.com, JAKARTA – Apa risiko terbesar bagi perekonomian dunia saat ini? Bukan Brexit, bukan pula perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. Jawabannya adalah sosok orang nomor satu di AS, Presiden Donald Trump.

Komentar itu dilayangkan sendiri oleh Gubernur Bank Sentral Filipina Benjamin Diokno dalam sebuah diskusi panel di Singapura. Entah menangkap jawaban ini gurauan atau tidak, yang jelas para hadirin tertawa mendengar jawaban jujur Diokno.

Menurut mantan profesor ekonomi yang mulai memegang kendali Bangko Sentral ng Pilipinas sejak Maret 2019 tersebut, ekonomi AS tumbuh karena pemotongan pajak yang diberlakukan di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Namun pada saat yang sama, kebijakan itu akan memperburuk utang dalam jangka panjang.

Diokno mungkin memiliki alasan untuk komentarnya itu. Ibaratnya, jika AS bersin, negara-negara lain bakal ikut-ikutan flu. Apapun yang dialami AS, seluruh belahan dunia akan ikut terseret.

Perang perdagangan AS-China, yang dimulai oleh pertentangan Trump terhadap banyak kebijakan yang mendorong China menjadi negara berekonomi terbesar kedua di dunia, telah berdampak di negara-negara berkembang di Asia serta mengancam akan memulai resesi global.

“Apapun yang dilakukan Trump benar-benar mendorong pasar. Ini mempengaruhi yang lain,” ujar Michael Ricafort, seorang ekonom di Rizal Commercial Banking Corp., Manila, seperti dilansir dari Bloomberg (Kamis, 19/9/2019).

Contoh lain yang menunjukkan karakter keras Trump adalah terkait suku bunga. Trump, yang mendambakan pertumbuhan ekonomi AS berkinerja lebih baik menjelang pemilihan presiden AS 2020, terang-terangan mendukung pelonggaran kebijakan moneter yang lebih agresif.

Pekan lalu, melalui akun Twitter miliknya, ia mencolek bank sentral AS Federal Reserve agar memangkas suku bunga acuan Negeri Paman Sam menjadi nol ataupun di bawahnya.

Pada Rabu (18/9), setelah The Fed menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk pertemuan kedua berturut-turut menjadi 1,75 persen – 2 persen, Trump kembali meradang di Twitter.

“(Jerome) Jay Powell dan Federal Reserve Lagi-lagi Gagal. Tidak punya 'nyali', tidak masuk akal, tidak memiliki visi! Seorang komunikator yang mengerikan!” tulis Trump.

Di depan panel Milken Institute Asia Summit di Singapura, Diokno mengatakan tekanan Trump pada Powell adalah sikap yang "tidak adil".

“Pemerintah-pemerintah (negara) harus menghormati independensi bank sentral,” tegas Diokno.

Powell sendiri telah menekankan perlunya bank sentral AS tersebut untuk tetap independen dari tekanan pemerintah. Sejumlah analis menggambarkan langkah pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada Rabu (18/9) sebagai "hawkish".

The Fed dipandang mengambil langkah ini sebagai perlindungan untuk ekonomi yang pada dasarnya tetap sehat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Donald Trump

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top