Ternyata, Ini Penyebab Inefisiensi Sektor Logistik di Indonesia

Chairman Supply Chain Indonesia Setijadi menuturkan, saat ini kontribusi pengangkutan barang melalui darat mencapai 91 persen, moda laut sekitar 7,5 persen, sementara kereta api hanya 1 persen.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 12 September 2019  |  16:00 WIB
Ternyata, Ini Penyebab Inefisiensi Sektor Logistik di Indonesia
Sejumlah truk yang akan menyeberang ke Sumatra antre sebelum masuk ke kapal roro di Pelabuhan Merak, Banten, Minggu (26/5/2019). - ANTARA/Asep Fathulrahman

Bisnis.com, JAKARTA -- Supply Chain Indonesia menyatakan rendahnya peran angkutan logistik melalui kereta api menjadi salah satu penyebab terjadinya inefisiensi di sektor logistik.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menuturkan saat ini kontribusi pengangkutan barang melalui darat mencapai 91 persen, moda laut sekitar 7,5 persen, sementara kereta api hanya 1 persen.

Dia menyatakan penggunaan moda transportasi yang tidak proporsional dalam pengangkutan barang menjadi penyebab inefisiensi sektor logistik.

"Tiga moda transportasi yang paling banyak digunakan, moda transportasi jalan atau trucking mendominasi volume pengangkutan barang sekitar 91 persen, moda transportasi laut sekitar 7,5 persen, dan moda transportasi kereta api sekitar 1 persen," katanya kepada Bisnis.com, Kamis (12/9/2019).

Dia menjelaskan ketidakseimbangan peranan antarmoda juga tergambar dari kontribusi masing-masing moda terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dari sekitar Rp666,15 triliun PDB sektor transportasi pada 2018, moda transportasi darat (jalan) berkontribusi sebesar 53,16 persen; transportasi udara sebesar 36,1 persen; transportasi laut sebesar 6,77 persen; transportasi sungai, danau, dan penyeberangan (SDP) sebesar 2,41 persen; dan transportasi rel sebesar 1,57 persen.

Setijadi memprediksi sektor transportasi Indonesia pada 2019 akan tumbuh sebesar 11,56 persen atau menjadi Rp 740,4 triliun. SCI memprediksi kontributor tertinggi masih dipegang angkutan darat sebesar Rp 380,8 triliun (51,43 persen) dan angkutan udara sebesar Rp 282,2 triliun (38,12 persen).

Walaupun angkutan darat berkontribusi tertinggi, tetapi tingkat pertumbuhan tertinggi pada 2019 diprediksi pada angkutan udara tumbuh 17,37 persen dan angkutan rel mencapai 17,11 persen. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logistik, biaya logistik, Angkutan Barang

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top