RI Perjuangkan Nias Jadi Situs Warisan Dunia Unesco

Pemerintah berharap dapat memperkuat dukungan terhadap desa adat Bawomataluo sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia versi Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (Unesco).
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 12 September 2019  |  01:04 WIB
RI Perjuangkan Nias Jadi Situs Warisan Dunia Unesco
Seorang pemuda menampilkan atraksi "Lompat Batu" Nias di Dusun Tanjung Basung II, Batang Anai, Kab.Padangpariaman, Sumatera Barat, Minggu (18/8/2019). Atraksi lompat batu tersebut ditampilkan warga suku Nias di daerah tersebut dalam rangka memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia. - ANTARA/Iggoy el Fitra

Bisnis.com, JAKARTA -- Indonesia mengupayakan Nias menjadi warisan budaya dunia Unesco mengingat daerah itu secara turun temurun telah memegang teguh adat istiadat.

"Sampai sekarang, masyarakat di beberapa wilayah Kepulauan Nias masih menjaga adat istiadatnya. Jadi, kami ingin memperkenalkannya lebih jauh," ujar Asisten Deputi Bidang Budaya, Senin, dan Olahraga Bahari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Kosmas Harefa dalam siaran pers seusai seminar internasional budaya Nias di Gunungsitoli, Rabu (11/9/2019).

Pemerintah berharap dapat memperkuat dukungan terhadap desa adat Bawomataluo sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia versi Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (Unesco).
 
Desa Adat Bawomataluo terletak di Kecamatan Fanayama, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara. Sejak 6 Oktober 2009, situs budaya ini telah tercatat dalam daftar tentatif warisan budaya Unesco, tetapi belum ditetapkan hingga kini. 
 
Kosmas berharap seminar internasional yang dihadiri akademisi, pelaku usaha pariwisata, dan pejabat kementerian terkait tersebut dapat menghasilkan rumusan untuk direkomendasikan kepada Unesco. 
 
"Kami ingin memperkuat dukungan terhadap pengajuan nominasi Desa Bawomataluo ke Unesco yang sebelumnya telah di-submit ke PBB," tuturnya.
 
Seminar internasional itu dihadiri oleh Pastor Johannes M. Hammerle, pemilik museum pusaka Nias, serta Ulrike Herbig yang merupakan Wakil Presiden ICOMOS Austria dan akademisi University of Technology Vienna Austria.
 
Kedua narasumber menjelaskan sejarah bangsa Nias dan arsitektur rumah adat Nias yang sangat memperhatikan lingkungan dan faktor keamanan, terutama dari gempa dan tsunami. Pada akhir seminar, para peserta dan pemerintah daerah setempat melakukan deklarasi untuk melestarikan budaya Nias. 
 
Deklarasi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Sail Nias di Gunungsitoli yang digelar pada 11-13 September 2019. Setelah seminar yang menghasilkan deklarasi selesai, Pemerintah Kota Gunungsitoli bersama masyarakat setempat menggelar festival kuliner dan kopi Nusantara serta parade Budaya Nias. Kopi yang disajikan dalam festival tersebut berasal dari hampir seluruh daerah di Indonesia.
 
Kegiatan rangkaian Sail Nias juga dilaksanakan oleh Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Utara, dan Kabupaten Nias Barat. 
 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nias, unesco

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top