Penerapan Konsep SOHO di Jakarta Belum Pas? Ini Penjelasannya

Sebetulnya konsep small office home office (SOHO) sangat baik, terutama di Jakarta karena umumnya orang-orang harus menempuh jarak jauh dari rumah ke kantor.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 10 September 2019  |  07:32 WIB
Penerapan Konsep SOHO di Jakarta Belum Pas? Ini Penjelasannya
Ilustrasi: SOHO Pancoran yang dikembangkan oleh PT Agung Podomoro Land Tbk. - sohopancoran.com

Bisnis.com, JAKARTA — Perkantoran berkonsep small office home office yang digabungkan dengan tempat tinggal masih belum memiliki predikat bagus di Indonesia, terutama di pusat bisnis seperti Jakarta. Pasalnya, konsep tersebut belum bisa masuk dalam budaya hidup orang Indonesia.

Senior Director Office Services Colliers Indonesia Bagus Adikusumo mengatakan bahwa sebetulnya konsep small office home office (SOHO) sangat baik, terutama di Jakarta karena umumnya orang-orang harus menempuh jarak jauh dari rumah ke kantor.

Konsep SOHO, menurutnya, bisa menjadi jawaban atas kesulitan tersebut, ketika orang bisa tinggal dan bekerja di satu tempat yang sama.

Bagus mengatakan bahwa dengan fasilitas sedemikian rupa, konsep SOHO paling cocok diterapkan di daerah-daerah pusat bisnis (central business district/CBD) di kota-kota besar karena di luar CBD fungsinya untuk mendekatkan jarak pengguna dengan kebutuhan sehari-hari dan gaya hidupnya terbilang masih kurang memadai.

Hal ini, kata Bagus, membuat penjualan SOHO atau bahkan perkantoran biasa di luar CBD kurang moncer, hingga stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, hal tersebut juga menjadi pemicu sedikitnya pasokan SOHO di Jakarta.

“Jadi, konsep SOHO ini sebenarnya hanya jadi opsi, pilihan bagi orang-orang yang butuh ruang kantor. Yang bikin kurang menarik kan karena kedisiplinan orang Indonesia akan waktu kerja dan leisure kan beda dengan orang asing. Jadi, memang belum cocok dan masuk sama budaya kita,” katanya kepada Bisnis, Senin (9/9/2019).

Seperti di beberapa SOHO yang ada di Jakarta, kata Bagus, ujung-ujungnya sepenuhnya digunakan hanya sebagai kantor karena untuk tinggal dan hidup di dalamnya, apalagi yang merencanakan adanya keluarga, maka kehidupan dan privasinya akan terganggu.

Hal ini serupa dengan konsep co-living di Indonesia yang kemudian hanya digunakan sebagai indekos dengan kualitas dan fasilitas bersama yang lebih baik saja.

“Jadi, kalau bicara demand pasti ada karena kebutuhan akan perkantoran apalagi di Jakarta itu akan selalu ada. Apalagi, ukurannya umumnya tidak terlalu besar, biasanya cocoknya untuk perusahaan kecil atau startup yang baru buka, yang kerjanya hanya sekitar 10 orang paling banyak,” jelasnya.

Kemudian, dengan adanya konsep perkantoran lainnya seperti ruang kerja Bersama (co-working space), pamor perkantoran berkonsep SOHO juga bukan tidak mungkin kesulitan untuk bersaing.

Pasalnya, co-working space, Bagus menilai, cenderung menawarkan kebebasan bagi para pelanggannya karena pembayarannya ditagihkan ke tiap-tiap orang atau pegawai, bukan ke perusahaan.

Namun, Bagus tidak bisa memberi data dan riset yang jelas terkait dengan SOHO lantaran peruntukkannya yang umumnya masih sepenuhnya dijadikan kantor.

Adapun, harga beli ruang SOHO yang masih bisa diserap oleh para konsumen adalah di kisaran Rp30 juta—Rp40 juta per meter persegi. “Kalau di bawah itu pembelinya harus kompromi dengan kualitas.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perkantoran, colliers, soho

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top