Kelanjutan Pengelolaan Blok Jabung Masih Menggantung

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih memiliki pekerjaan rumah untuk memutuskan kelanjutan pengelolaan blok Jabung yang terminasi pada Februari 2023.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 10 September 2019  |  13:43 WIB
Kelanjutan Pengelolaan Blok Jabung Masih Menggantung
Kilang Minyak - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih memiliki pekerjaan rumah untuk memutuskan kelanjutan pengelolaan blok Jabung yang terminasi pada Februari 2023.

Berbeda dengan dua blok migas lain yang juga habis pada 2023, yakni blok Corridor dan blok Rimau, Kementerian ESDM tidak memiliki target khusus untuk menentukan pengelola lanjutan blok migas tersebut.

Pelaksana Tugas Dirjen Migas Djoko Siswanto mengatakan belum ada pembahasan spesifik untuk menentukan kelanjutan pengelolaan blok Jabung. Djoko tidak menjelaskan mengapa pembahasan blok ini terpisah jauh dari blok Rimau dan blok Corridor.

"Belum, belum dibahas," tuturnya, Senin (9/9/2019) malam.

Saat ini, berdasarkan informasi dari situs resmi Petrochina, blok Jabung menyumbang produksi migas sebesar 55.000 barel minyak ekuivalen per hari (boepd). Sementara itu, pada tahun lalu, blok Jabung mencapai puncak produksi sebesar 60.000 boepd.

Petrochina menjadi operator blok Jabung sejak 2002 setelah mengakuisisi Devon Energy. Saat ini, perusahaan migas asal China ini bekerja sama dengan Petronas Carigali dan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) di Jabung.

Berdasarkan data SKK Migas, hingga paruh pertama 2019, Petrochina International Jabung Ltd berhasil menyedot minyak sebanyak 15.552 barel per hari (bph) dan menyalurkan gas bumi sebesar 171 ribu kaki kubik per hari (MMscfd).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
migas

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top