Banjir Produk Impor, Produsen Baja Lapis Rumahkan Karyawan

Indonesian Zinc-Alumunium Steel Industries (IZASI)) menyatakan utilitas pabrikan industri baja lapis nasional telah turun ke level 40%.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 05 September 2019  |  17:35 WIB
Banjir Produk Impor, Produsen Baja Lapis Rumahkan Karyawan
ilustrasi. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesian Zinc-Alumunium Steel Industries (IZASI)) menyatakan utilitas pabrikan industri baja lapis nasional telah turun ke level 40%. Utilitas sebelum banjir impor baja terjadi, yakni pada 2016, berada di atas 80%.  Sebagian pelaku industri pun mulai memangkas jumlah tenaga kerja.

Ketua Umum IZASI Yan Xu mengatakan secara konsolidasi industri baja lapis telah melepas sekitar 15%-20% tenaga kerja dari total tenaga kerja industri dalam 18 bulan terakhir. Yan berujar Walikota Cilegon pun sempat melakukan intervensi terhadap pelepasan tenaga kerja tersebut lantaran sebagian besar pekerja di industri baja sudah bekerja selama 15 tahun—20 tahun.

“Kami telah berada di Indonesia selam 25 tahun dan kami berniat untuk berbisnis dalam 25 tahun ke depan. Kami telah mengucurkan investasi senilai US$600 juta. Jika bisnis di Indonesia sudah tidak layak, kami akan merelokasi. Itu keputusan yang tidak ingin diambil oleh siapapun,” ujar Yan Xu yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT NS BlueScope Indonesia kepada Bisnis, Kamis (5/9/2019).

IZASI mendata kapasitas terpasang industri baja lapis mencapai 1,075 juta. Secara jenis produk, baja lapis biasa berkontribusi sekitar 75% dari total kapasitas terpasang, sedangkan baja lapis warna 25%.

Dengan kata lain, kapasitas produksi industri baja lapis saat ini hanya 430.000 ton per tahun. Hal tersebut disebabkan oleh baja lapis impor yang mendominasi pasar domestik sebesar 70%. Adapun, baja lapis impor dari Vietnam dan China mendominasi sebesar 57% dari permintaan baja lapis nasional.

Sebagai industri tengah baja, Yan menyampaikan bea masuk yang dikenakan pada produk baja lapis tidak proporsional jika dibandingkan dengan produk baja lainnya. Adapun, baja canai dingin (cold rolled coil/CRC) yang digunakan sebagai bahan baku baja lapis memiliki bea masuk 15%, baja lapis sebesar 20%, dan baja bentuk (rollforming) sebesar 12,5%.

Alhasil, industri hilir baja pun kini terdampak oleh banjir produk jadi baja dari China. Menurutnya, produk baja jadi kini masuk ke dalam sepuluh besar barang impor dengan nilai dan volume tertinggi. Padahal, lanjutnya, hal tersebut tidak terjadi pada tahun lalu.

Hingga semester I/2019 setidaknya ada dua sektor manufaktur yang terdampak akibat banjirnya produk impor dari China yakni industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan baja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri baja

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top