Langkah Menperin Dorong Industri 4.0 Sudah Sesuai Kebutuhan

Menurutnya, industri 4.0 ini akan lebih cepat diadaptasi karena dari sisi lingkungan memang sudah mengharuskan. Karena itu, pemerintah harus memberikan fasilitas yang memadai bila ingin mendorong industri 4.0.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 04 September 2019  |  16:52 WIB
Langkah Menperin Dorong Industri 4.0 Sudah Sesuai Kebutuhan
Ilustrasi logo revolusi industri 4.0. - Reuters/Wolfgang Rattay

Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto terus menggenjot penerapan industri 4.0 ke berbagai sektor dinilai tepat dan sudah sejalan dengan kebutuhan industri.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Pieter Abdullah menyebut hal itu juga seiring dengan kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memang ingin agar ada percepatan penerapan peta jalan industri 4.0. 

Airlangga diketahui juga mendorong agar industri kecil dan menengah (IKM) beradaptasi dengan teknologi digital demi meningkatkan daya saing di era revolusi industri 4.0.

Pieter mengatakan bahwa Indonesia sudah siap menerapkan industri 4.0. Jadi, kebijakan Industri 4.0 Kemenperin di bawah Airlangga, sudah tepat. 

“Jadi saya kira untuk di Indonesia sudah siap menerapkan konsep industri 4.0. Memang sebagian masih  bergantung di industri 1.0, tapi bisa berjalan bersandingan,” kata Pieter, Rabu (4/9/2019).

Menurutnya, industri 4.0 ini akan lebih cepat diadaptasi karena dari sisi lingkungan memang sudah mengharuskan. Karena itu, pemerintah harus memberikan fasilitas yang memadai bila ingin mendorong industri 4.0.

Apabila penciptaan lingkungan industri baik, maka dengan sendirinya bisa terealisasi lebih cepat, dan diadaptasi berbagai sektor usaha, baik skala kecil maupun besar.

“Biar saja mengalir, karena pihak swata tahu mana yang menjadi kebutuhan atau bukan. Mereka pasti akan ikut, baik itu industri 4.0 maupun 1.0,” katanya.

Contohnya, lanjutnya, masih banyak masyarakat yang menggunakan produk ponsel lama, meski sudah ada ponsel baru dengan teknologi lebih maju. Artinya, tools akan digunakan sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Sekarang ini, katanya, lebih penting bagaimana pemerintah memberikan sistem, kondisi, dan insentif. Mereka yang menggunakan pendekatan industri 4.0 maupun masih pendekatan lama, untuk sama-sama maju. “Mereka yang ingin maju maka harus didukung infrastrukturnya oleh pemerintah, termasuk Kemenperin.”

Lintas Sektor

Sementara itu, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Imanuddin Abdullah mengatakan bahwa langkah Menperin Airlangga perlu dukungan dari lintas sektor, agar industri 4.0 berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Menueurntya, industri 4.0 bisa menjadi peluang untuk meningkatkan investasi oleh perusahaan terutama yang bergerak di sektor dengan tingkat teknologi yang tinggi. Karena itu, Indonesia harus menarik di mata para investor agar mau menanamkan investasi di sektor-sektor yang terkait dengan industri 4.0.

Saat ini, dari sisi daya saing dan inovasi masih relatif tertinggal. Misal, tenaga kerja Indonesia yang berpendidikan tinggi hanya 12,8 persen, jauh lebih kecil dibandingkan Malaysia yang mencapai 20 persen dan negara-negara OECD yang mencapai 40,40 persen.

Imanuddin melanjutkan, peringkat Global Innovation Index Indonesia berada pada level 85, lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga seperti Filipina (73), Thailand (52), Vietnam (45), dan Malaysia (35). Belum lagi, anggaran riset terhadap PDB Indonesia masih sangat kecil, di bawah 1 persen. Padahal negara-negara lain sudah di atas 1 persen.

Karena itu, faktor-faktor dan kondisi di atas harus diperbaiki, dan Menperin Airlangga bisa menjembatani. “Kalau Menperin mendukung hal tersebut, maka harus memperhatikan infrastruktur, dan kondisi pendukunganya. Jadi ini memang kerja lintas sektoral.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Revolusi Industri 4.0

Sumber : Antara

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top