Tunggu Harga Membaik, Petani Bawang Merah Diimbau Tunda Penjualan

Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) mengimbau petani menunda penjualan di tengah kondisi harga yang lebih rendah daripada biaya produksi. 
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 03 September 2019  |  13:42 WIB
Tunggu Harga Membaik, Petani Bawang Merah Diimbau Tunda Penjualan
Petani mengeringkan bawang merah setelah dipanen di Kampung Cicayur, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/5/2019). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) mengimbau petani menunda penjualan di tengah kondisi harga yang lebih rendah daripada biaya produksi. 

Ketua ABMI Juwari mengatakan petani untuk menyimpan sebagian komoditasnya terlebih dahulu. Pasalnya, harga diperkirakan membaik dalam waktu dekat.

Kami mengimbau petani untuk tunda jual, jangan 100 persen digelontorkan ke pasar, tetapi 50 persennya dijual dan sisanya disimpan. Kemungkinan 1 bulan lagi harga akan naik karena dalam waktu dekat ini sudah tidak ada lagi yang tanam bawang,” katanya kepada Bisnis, Senin (2/9/2019).

Dia mengemukakan di beberapa daerah, harga bawang merah sudah menyentuh kisaran Rp6.000—Rp8.000 per kilogram. Adapun, harga bawang merah dalam bentuk kering (askip) mencapai sekitar Rp12.000 per kilogram.

Harga jual saat ini, lanjutnya, berada jauh di bawah biaya produksi petani yang mencapai sekitar Rp13.000 per kilogram. Biaya produksi bawang untuk lahan seluas 1 hektare (ha) dalam satu kali musim tanam mencapai Rp120 juta.

Juwari menuturkan saat ini banyak petani yang terpaksa menjual hasil produksi dengan harga rendah karena kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan angsuran pinjaman. Menurutnya, langkah ini justru membuat harga semakin anjlok karena pasokan bawang merah di pasar meningkat.

“Memang harus tunda jual sebenarnya, tapi kendalanya di situ tadi, karena kebutuhan hidupnya petani yang tidak bisa ditunda,” ujarnya.

Dia meyakini harga akan kembali membaik dalam waktu dekat seiring dengan proyeksi menurunnya pasokan komoditas itu di pasar. Dia mengatakan, saat ini sudah tidak ada petani bawang yang melakukan penanaman. 

Pasokan bawang merah untuk kebutuhan Oktober, lanjutnya, hanya dipasok dari hasil panen Juni—Agustus.

“Di seluruh Jawa itu tidak ada yang tanam baru, jadi kebutuhan nasional untuk kebutuhan Oktober hanya dipasok dari hasil panen saat ini. Jadi, pasti harga akan mulai merangkak naik. Itu hukum pasar, kami sudah mempelajari itu selama 5 tahun ke belakang selalu seperti itu,” katanya.

Juwari menjelaskan penurunan harga akibat melimpahnya hasil produksi bawang putih merupakan pola tahunan. Periode Juni—Agustus dianggap sebagai periode terbaik untuk karena faktor musim yang menjanjikan produktivitas lebih tinggi.

Namun, menurutnya penurunan harga kali ini ini lebih dalam dibandingkan tahun sebelumnya karena jumlah produksi secara nasional meningkat. Dia mengatakan, produksi meningkat tinggi di sejumlah daerah di luar Brebes.

“Sekarang ini di luar Brebes banyak daerah yang petaninya diajarkan untuk menanam bawang merah. Jadi sekarang lebih melimpah meskipun di Brebes sendiri penanaman berkurang, saat ini luas tanam di Brebes pada Juli—Agustus hanya 5.800 hektare, biasanya 10.000 hektare,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bawang merah

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top