PMI Agustus, Indeks Manufaktur Turun Lagi

Purchasing Manager’s Index (PMI) Indonesia pada Agustus 2019 kembali turun ke level 49,0 setelah pada bulan sebelumnya PMI Indonesia turun ke bawah level 50,0 pertama kalinya pada tahun ini ke posisi 49,6. Secara tahunan, PMI Indonesia pada Agustus 2019 merosot 290 basis poin (bps).
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 03 September 2019  |  08:40 WIB
PMI Agustus, Indeks Manufaktur Turun Lagi
Pekerja mengawasi mesin bordir komputer di rumah produksi bordir di Jakarta, Senin (15/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA —Purchasing Manager’s Index (PMI) Indonesia pada Agustus 2019 kembali anjlok ke level 49,0 setelah pada bulan sebelumnya turun ke bawah level 50,0 pertama kalinya pada tahun ini ke posisi 49,6. Secara tahunan, PMI Indonesia pada Agustus 2019 merosot 290 basis poin (bps).

Principal Economist IHS Markit Bernard Aw mencatat PMI Agustus merupakan level terendah sejak Juli 2017. Penurunan PMI pada bulan lalu disebabkan oleh penurunan produksi yang menyesuaikan penurunan permintaan pasar global. Alhasil, pengurangan tenaga kerja pun dilakukan oleh industri nasional.

“Data survei terakhir menunjukkan kondisi permintaan pada pasar lokal dan global yang memburuk. Tingkat pesanan baru terkontraksi pertama kalinya dalam 4 bulan terakhir dengan tingkat penurunan maksimum sejak Juli 2017 akibat rendahnya nilai ekspor,” ujarnya, Senin (2/9/2019).

Bernard menambahkan permintaan baru di pasar global turun dengan kecepatan tinggi sejak awal kuartal IV2018. Alhasil, penurunan permintaan tersebut membuat produk-produk jadi menumpuk di gudang-gundang industri.

Menanggapi hal tersebut, pelaku industri menurunkan kapasitas produksi dan pembelian bahan baku. Bernard membukukan penahanan pembelian bahan baku pada bulan lalu merupakan yang terendah sejak 2015. Penurunan produksi tersebut menjadikan utilitas pabrikan turut turun.

Alhasil, pelaku industri mulai melepas tenaga kerja mengikuti penurunan kapasitas produksi dan utilitas pabrikan. Adapun, pengurangan tenaga kerja tersebut merupakan yang tertinggi sejak akhir 2017. Selain itu, penyerapan tenaga kerja pada Agustus kembali turun sejak penurunan pada Juli 2019.

“Perbandingan historis menunjukkan level PMI Agustus konsisten dengan pertumbuhan PDB tahunan yakni di bawah 5%,” katanya.

Bernard menyampaikan sentimen proyeksi produksi tahun depan tetap mengambang walaupun optimisme sebagian besar pelaku industri menukik selama 4 bulan terakhir. Adapun, pelaku industri optimis dengan proyeksi serapan yang lebih tinggi di masa depan, kegiatan pemasaran dan promosi baru, dan perencanaan investasi di dalam negeri.

Menanggapi penurunan level PMI pada Agustus 2019, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan saat ini memang kondisi di industri, khususnya tekstil hulu mengalami penurunan.

Hal ini disebabkan karena impor yang dinilai terlalu besar dan produk dalam negeri kurang berdaya saing dengan produk negara lain.

Dia menyebutkan sebanyak tiga anggota asosiasi menghentikan satu lini produksi pasca Lebaran lalu. "Dengan ini kan artinya akan ada rasionalisasi, pasti turun produksinya. Saya rasa kondisi penurunan sekarang enggak cuma di tekstil saja," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indeks manufaktur

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top