Hadapi Resesi, Rasio Ekspor Harus Diperkuat

Tren penurunan rasio ekspor Indonesia sebagai imbas atas resesi ekonomi global tidak akan memperburuk pertumbuhan ekonomi Tanah Air sampai 5 tahun ke depan.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 30 Agustus 2019  |  20:19 WIB
Hadapi Resesi, Rasio Ekspor Harus Diperkuat
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Bisnis.com, JAKARTA -- Tren penurunan rasio ekspor Indonesia sebagai imbas atas resesi ekonomi global tidak akan memperburuk pertumbuhan ekonomi Tanah Air sampai 5 tahun ke depan.

Berdasarkan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024, rasio nilai ekspor per PDB Indonesia baru mencapai 19 persen. 

Rasio ekspor terhadap PDB juga terus menurun dari 41,0 persen pada 2000 dan menjadi 21 persen pada 2018. Tak heran jika defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) mencapai 3 persen dari PDB pada kuartal II/2019.

Rasio ekspor ini masih jauh dibandingkan sejumlah negara tetangga Asia Tenggara, seperti Thailand dengan rasio 69,0 persen, Vietnam dengan rasio 93,0 persen, dan Singapura 172,0 persen. 

Penyebab rasio ekspor Indonesia yang rendah akibat sumber daya alam yang tidak diolah menjadi produk bernilai tinggi. Adapun ekspor komoditas masih mendominasi dengan persentase lebih dari 50 persen.

RPJMN 2020-2024 juga memerinci rasio ekspor yang rendah menjadi agenda besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ada tiga solusi yang harus dilakukan pemerintah dalam lima tahun ke depan.

Pertama, menyelaraskan disharmoni antara sektor hulu dan hilir yang menyebabkan kerentanan dalam rantai pasok atau nilai industri nasional. 

Kedua, kapasitas inovasi di Indonesia masih rendah seperti yang ditunjukkan ekspor produk industri berkandungan teknologi tinggi asal Indonesia yang lebih rendah dibandingkan negara-negara setara.

Ketiga, kualitas investasi masih rendah karena prospek ekspor tidak mengandalkan transfer teknologi dan pengetahuan khususnya Penanaman Modal Asing (PMA). Selama ini investasi yang masuk belum berorientasi ekspor.

RPJMN 2020-2024 telah memprakirakan jika industri pengolahan tak berkembang sebagai alternatif ekspor, maka bisa memberi defisit pada kinerja perdagangan internasional Indonesia. Alasannya, di tengah kondisi keuangan global yang ketat, peningkatan defisit transaksi berjalan bisa menjadi penghambat bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan usai Sidang Pleno XX Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), dalam menghadapi tantangan perekonomian global dan domestik jangka pendek maupun jangka panjang dengan risiko resesi maka perlu mendorong industri pengolahan dan teknologi informasi.

Dengan strategi itu Perry menilai prospek ekonomi Indonesia masih cukup bagus jika dibandingkan negara lain yang mengalami perlambatan. 

Dia menyebut ada beberapa negara yang sudah berisiko resesi. Misalnya saja Singapura yang ekonominya mulai melambat.

"Maka kalau kita masih di atas 5,0 persen itu baik. Namun ekonomi kita masih rentan dalam jangka waktu menengah," papar Perry di The Anvaya Hotel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, resesi

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top