Qantas Bakal Uji Coba Penerbangan 20 Jam Nonstop

Impian Qantas Airways untuk melakukan penerbangan nonstop maju selangkah lebih dekat. Maskapai penerbangan internasional ini mengumumkan akan menguji coba penerbangan nonstop secara maraton dari New York dan London ke Sydney.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  10:43 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Impian Qantas Airways untuk melakukan penerbangan nonstop maju selangkah lebih dekat. Maskapai penerbangan internasional ini mengumumkan akan menguji coba penerbangan nonstop secara maraton dari New York dan London ke Sydney.

Sebelum layanan komersial ini dimulai, Qantas terlebih dahulu akan menjalankan penerbangan nonstop untuk rute tersebut hanya dengan membawa beberapa staf guna mengetahui daya tahan tubuh manusia.

Pada Kamis (22/8/2019), maskapai asal Australia itu menyatakan akan mensimulasikan penerbangan langsung berwaktu tempuh terlama di dunia itu dengan Boeing Co. Dreamliners paling cepat pada Oktober.

Ini akan menjadi pertama kalinya dalam sejarah, sebuah pesawat komersial terbang tanpa henti antara New York dan Sydney, dan yang kedua kalinya sebuah pesawat terbang langsung dari London ke Sydney.

Sebanyak 40 penumpang dan awak pesawat, sebagian besar dari mereka adalah karyawan, akan menjalani sejumlah pemeriksaan dan penilaian medis sebelum terbang.

Para ilmuwan dan pakar medis akan memantau pola tidur, konsumsi makanan dan minuman, pencahayaan, gerakan fisik, dan penggunaan hiburan dalam pesawat untuk menilai dampaknya terhadap kesehatan dan jam tubuh mereka.

Adapun pilot pesawat akan memakai perangkat khusus yang melacak pola gelombang otak dan memonitor kewaspadaan, seperti dikutip dari Newshub.

CEO Qantas, Alan Joyce, mengatakan bahwa penerbangan ini adalah kesempatan yang tepat bagi para peneliti untuk mengumpulkan data real-time.

“Bagi pelanggan, kuncinya adalah meminimalkan jet lag dan menciptakan lingkungan di mana mereka menginginkan penerbangan yang tenang dan menyenangkan,” terang Joyce.

“Bagi awak pesawat, ini tentang menggunakan penelitian ilmiah untuk menentukan peluang terbaik meningkatkan kewaspadaan saat mereka bertugas dan memaksimalkan istirahat selama waktu istirahat mereka dalam penerbangan ini,” lanjutnya.

Qantas sendiri berambisi memulai layanan penerbangan langsung yang menghubungkan Sydney ke New York dan London segera setelah 2022. Oleh Joyce, layanan tersebut digambarkan sebagai 'batas akhir' yang ingin dicapai perusahaan.

Namun, layanan yang memakan waktu sekitar 20 jam ini masih memiliki ketidakpastian. Qantas masih belum memutuskan apakah pesawat Boeing atau Airbus SE yang dapat menerbangi rute dengan penuh muatan dan tanpa jeda.

Masih belum jelas pula bagaimana penumpang akan dapat mentolerir untuk berdiam di kabin pesawat menghabiskan siang dan malam hari.

"Hal-hal yang kami pelajari dalam penerbangan ini akan sangat berharga," ujar Joyce, seperti dilansir Bloomberg.

Joyce sebelumnya mengatakan berencana memilih Boeing 777-8X atau Airbus A350-900ULR dan -1000ULR untuk layanan penerbangan itu.

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg Television pada hari Kamis, Joyce mengatakan keterlambatan program Boeing 777X belum mengecualikan pabrikan AS tersebut dari kesepakatan.

“Persaingan ini masih sangat kompetitif,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
qantas

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top