Pemerintah Bangun SDM, Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani : Perguruan Tinggi Harus Siapkan Diri

Lulusan perguruan tinggi tanpa terkecuali harus siap kerja dan memiliki kualitas di atas rata-rata dan keahlian agar tidak tergerus oleh tenaga kerja asing yang tidak hanya ditentukan seberapa banyak gelar yang diperoleh.
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  10:05 WIB
Pemerintah Bangun SDM, Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani : Perguruan Tinggi Harus Siapkan Diri
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani memberikan sambutan saat menghadiri diskusi publik di Jakarta, Jumat (5/7/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA — Perguruan tinggi perlu menyiapkan diri atas rencana pemerintah menitikberatkan program pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai strategi menuju keunggulan Indonesia.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B.  Sukamdani mengatakan bahwa SDM unggul yang dicanangkan oleh pemerintahan Joko Widodo harus didukung semua institusi perguruan tinggi sebagai arah untuk memersiapkan anak didik yang  tidak hanya mampu tetapi juga menang dalam persaingan global.

Lulusan perguruan tinggi tanpa terkecuali, katanya harus siap kerja dan memiliki kualitas di atas rata-rata dan keahlian agar tidak tergerus oleh tenaga kerja asing yang tidak hanya ditentukan seberapa banyak gelar yang diperoleh.

Hal itu disampaikan Hariyadi menyikapi pemilihan Rektor Universitas Indonesia. Dalam keterangan resminya, Kamis (22/8/2019), Hariyadi menyatakan UI merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, yang menjadi barometer bagi perguruan tinggi lainnya.

Secara teori, lulusan dari universitas terbaik  memiliki daya tawar yang tinggi untuk dunia kerja. Namun dalam konteks dunia kerja, keahlian dan pengalaman akan menentukan daya tawar seseorang dalam mendapatkan kerja dan kepantasan gaji yang harus diterimanya.

“Belum lama ini di medsos viral tentang lulusan Universitas Indonesia yang menolak gaji Rp8 juta. Alumnus UI ini menolak gaji yang ditawarkan dengan alasan lulusan Universitas Indonesia. Ini hanya sekadar contoh saja. Berapapun yang diminta oleh calon tenaga kerja adalah sah-sah saja. Tetapi siapa yang mau membayar kalau dia minta tinggi ? Punyakah dia pengalaman kerja, keahlian kalau dia fresh graduate ?” urai Hariyadi.

Untuk dapat bekerja, katanya ukurannya bukanlah sekadar ijazah. Ada sederet kriteria yang oleh masing-masing perusahaan sudah dipatok sebagai standardisasi pengupahan di perusahaan tersebut.

Kriteria itu termasuk di dalamnya adalah keahlian dan pengalaman, mental siap kerja, kemampuan bekerja dalam tim dan  kontribusi calon karyawan kepada perusahaan.

“Presiden dengan mencanangkan program SDM Unggul sebenarnya ingin menjelaskan SDM Indonesia harus memiliki keahlian atau keterampilan. Sehingga dalam konteks ini diperlukan pendidikan vokasi. Kalau dulu mungkin teorinya 60% dan praktik 40%, dalam konteks SDM Unggul, perguruan tinggi mengubahnya praktik 60% dan teori 40%. Itu berlaku untuk semua mata kuliah. Atau secara sederhananya, pendidikan yang dijalani S-1 tetapi dengan keahlian D-4. Ini tuntutan zaman,” katanya.

Hariyadi mencontohkan, orang tidak perlu S1 informatika jika ingin menjadi design graphic officer. Sejauh calon karyawan bisa menunjukkan keahliannya dalam bidang tersebut serta persyaratan lain terpenuhi, semua tidak menjadi masalah.

Keahlian dalam konteks seperti ini sudah berlaku bagi generasi milenial sekarang, yang sudah bekerja sebelum mereka mendapatkan ijasah. Bahkan bisa jadi, mereka yang ahli desain itu ternyata jurusan yang diambil adalah Fakultas Hukum.

“Dunia kerja dan pasar kerja sudah berubah. Dan, sebaiknya perubahan pasar ini diantisipasi oleh setiap perguruan tinggi termasuk Universitas Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Rektor yang akan dipilih sudah siap untuk menerima mindset baru atas perubahan yang terjadi ?” tanya Hariyadi Sukamdani.

Terkait dengan pemilihan Rektor UI, Hariyadi menegaskan bahwa perguruan tinggi yang memiliki rektor dengan mindset terbuka adalah perguruan tinggi yang memiliki kesempatan untuk menang dalam persaingan global bagi anak didiknya. 

Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki visi ke depan jauh agar mampu menyiapkan generasi baru dalam memenangkan Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat, kuat dan berdaulat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ui, universitas indonesia, apindo, hariyadi sukamdani

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top