Kedauatan Industri di Masa Kini

Kemajuan sektor industri acapkali menandai tingkat modernitas suatu bangsa. Indonesia telah bertekad mengarungi arus kemajuan teknologi digital dengan upaya transformasi industri.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 16 Agustus 2019  |  10:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Kemajuan sektor industri acapkali menandai tingkat modernitas suatu bangsa. Indonesia telah bertekad mengarungi arus kemajuan teknologi digital dengan upaya transformasi industri.

sejak lama para Bapak Bangsa memaknai industri sebagai faktor kunci dalam menegakkan kedaulatan. Masa-masa genting pascakemerdekaan tak memupus ide dan strategi agar Indonesia memiliki keunggulan di sektor industri.

Bermodal warisan industri era kolonial, Orde Lama menggerakkan sektor industri. Krakatau Steel hingga industri pertahanan dikembangkan.

Tak hanya itu, di era Orde Lama juga Indonesia mulai menyiapkan tenaga cendekia untuk mengolah warisan industri agar lebih maju. Rombongan anak-anak muda yang berpotensi mendapat ragam beasiswa ke penjuru pusat keilmuan modern.

Ada yang menggeluti teknologi nuklir di Rusia, juga ada yang menekuni ekonomi di Amerika. Untuk urusan teknologi dan industri, banyak mahasiswa belajar di Jerman, salah satu jebolan terbaiknya adalah Presiden ketiga B. J. Habibie.

Cita-cita yang sama dilanjutkan masa pemerintahan Orde Baru. Bahkan, pengembangan sektor industri semakin meluas pada masa itu.

Indonesia memiliki industri dirgantara yang dibidani Habibie. Begitu pula sektor lain cepat bergeliat, produk otomotif sudah mulai dirakit di dalam negeri, hingga melesatnya sektor industri tekstil maupun makanan.

Namun seiring kemajuan teknologi informasi, tantangan dan peluang sektor industri pun berganti. Sektor industri bakal tertinggal jika tetap mengunyah resep konvensional.

Hingga pengujung Orde Baru, dunia industri masih bertumpu kepada mekanisme kerja teknologi hasil Revolusi Industri 3.0. Kini kemajuan itu telah mencapai teknologi 4.0, dan di ambang tahap revolusi selanjutnya.

Sebagai khazanah, revolusi industri bertahap sejak era awal modernisasi Eropa. Rintisan teknologi modern ditandai dengan kelahiran mesin uap.

Pada gilirannya, perkembangan signifikan terjadi kembali yaitu sewaktu tenaga listrik ditemukan. Teknologi listrik berhasil menghadirkan lanskap baru sektor industri, penggunaan mesin-mesin yang bisa mempersingkat waktu dan juga menghemat biaya.

Pada masa awal itu, Indonesia masih menghadapi era kolonial. Namun setelah kemerdekaan, bangsa yang baru lahir ini disongsong perkembangan cepat teknologi elektronika bersamaan dengan teknologi canggih telekomunikasi dan informatika.

Paling mutakhir, melalui pondasi kemajuan teknologi yang lebih dulu, abad Internet telah mengglobal. Era digital yang memungkinkan koneksi tanpa batas dan realtime telah mengisi keseharian masyarakat.

Inilah Revolusi 4.0, koneksi tanpa batas dan jeda. Unit usaha yang masih berpatok rumus konvensional akan terlibas tanpa ampun. Untuk kesekian kali, sektor industri ditantang untuk menyesuaikan dirinya. Apalagi hingga saat ini sektor manufaktur masih merupakan gantungan hidup paling diandalkan buat Indonesia.

Dari data Badan Pusat Statistik, sektor manufaktur menjadi tumpuan bagi Pendapatan Domestik Bruto atau PDB nasional. Sektor tersebut menyumbang 17,36% terhadap PDB nasional, paling besar di antara sektor lainnya.

Berdasarkan data yang sama, sektor manufaktur yang menunjang paling besar adalah industri makanan dan minuman, sebesar 6,4% dari PDB. Berurutan pada peringkat kedua kontributor terbesar yaitu industri kimia dan farmasi, serta industri baja, elektronik, serta peralatan industri.

Di sisi lain, hingga paruh pertama tahun ini, dari total ekspor nasional yang mencapai US$80,32 miliar, sektor manufaktur menyumbang US$60,14 miliar, atau setara 74,88% dari total nilai ekspor. Sejak 2015, kontribusi ekspor sektor itu tak pernah di bawah 72% dari total ekspor nasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
HUT Kemerdekaan RI

Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top