Kemendag Siap Fasilitasi Akses Pasar CPO Indonesia ke Rusia

Kementerian Perdagangan siap memfasilitasi pembukaan pasar ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya melalui kerja sama dagang maupun ekonomi komprehensif dengan Rusia.
Yustinus Andri & Pandu Gumilar
Yustinus Andri & Pandu Gumilar - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  12:53 WIB
Kemendag Siap Fasilitasi Akses Pasar CPO Indonesia ke Rusia
Seorang pekerja memuat bongkahan kelapa sawit ke atas mobil truk di pinggir jalan raya Palembang-Prabumulih, Sumsel - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan siap memfasilitasi pembukaan pasar ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya melalui kerja sama dagang maupun ekonomi komprehensif dengan Rusia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih menyebutkna, Kemendag sedang berupaya menjajaki pasar ekspor Rusia dengan cara menggelar pakta kerja sama melalui Eurasian Economic Union (EAEU).

“Kami sudah melakukan penjajakan awal untuk melakukan kerja sama dengan EAEU, di mana didalamnya terdapat Rusia. Harapan kami, dengan adanya kerja sama dengan EAEU, pasar ekspor Indonesia akan makin terbuka, salah satunya untuk produk CPO,” jelasnya ketika dihubungi Bisnis.com, Senin (8/5/2019).

Selain mengupayakan adanya pakta kerja sama tersebut, Pemerintah Indonesia berupaya melakukan pendekatan secara bilateral dengan pemerintah Rusia agar produk Indonesia dapat masuk ke negara tersebut.

Dia mengakui, produk ekspor Indonesia seperti produk perikanan, makanan dan minuman serta CPO cukup diminati oleh konsumen Rusia. Hal itu, menurutnya akan memberikan peluang bagi RI untuk mendongkrak kinerja ekspornya.

Di sisi lain, ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal menyebutkan, Rusia merupakan pasar yang menjanjikan untuk produk CPO RI.

Terlebih, lanjutnya, Rusia tidak bergabung dengan Uni Eropa yang saat ini gencar melakukan pembatasan impor dan kampanye negatif terhadap CPO. Hal itu membuat, peluang RI untuk memaksimalkan pasar negara tersebut masih sangat terbuka.

“Hampir sama dengan Afrika, Rusia dan negara-negara Eropa Timur lain memilki potensi yang menjanjikan bagi produk ekspor kita. Pembukaan kerja sama dagang dengan negara-negara itu sangat penting untuk mengurangi hambatan dagang berupa tarif yang relatif tinggi,” ujarnya.

Sebelumnya, pengusaha berharap pemerintah melakukan perjanjian dagang dengan Rusia untuk memperluas ceruk pasar di negara tirai besi tersebut.

Dalam Festival Indonesia – Moscow 2019 terungkap fakta bahwa ekspor CPO dari Indonesia ke Rusia sebesar 800.000 ton/tahun rupanya tidak digunakan untuk konsumsi rumah tangga. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga mengatakan selama ini penggunaan hanya sebatas konveksioneri.

Sahat pun baru mengetahui fakta tersebut ketika minyak goreng sawit yang dibawa ludes terjual oleh para pengunjung. Warga lokal bahkan bertanya lokasi supermarket agar bisa membeli produk tersebut.

"Industri disini ternyata tidak promosi minyak ini dijual di market. Jadi ekspor kita yang kemari dipakai oleh industri untuk konveksioneri, speciality fat, margarin, sabun tapi tidak dijual ritel," kata Sahad kepada Bisnis.com di Moskwa, Minggu (5/7/2019).

Padahal, Sahad menilai Rusia bisa menjadi ceruk pasar tambahan untuk devisa dengan mengekspor CPO bagi keperluan rumah tangga. Saat ini pemakaian CPO di negara tirai besi tersebut sebesar 1,1 juta ton per tahun dimana 74,5% dipasok dari Indonesia dan sisanya dari Malaysia dan Belanda.

Dengan tambahan konsumsi pasar ritel, Sahad optimistis ekspor bisa naik sekutar 200.000 ton - 300.000 ton menjadi 1,1 juta ton khusus dari Indonesia. Hal ini bisa terlaksana apabila kedua belah pemerintah melakukan perjanjian dagang.

"Ini yang mulai harus kita terobos. Caranya adalah goverment to goverment. Pemerintah sini selalu bilang minyak sawit jelek sehingga industri ritel takut membeli. Jadi pemerintah harus approach. Pemerintah sini mau ritel mau," katanya.

Menurutnya setelah pemerintah akan dilanjutkan pertemuan antar industri.

"G2G sekalian dengan preferences tarif agreement [PTA]. Kita bisa mendahului malaysia supaya dapat pasar baru untuk ritel. Selama festival 1 liter bisa kita jual Rp36.000, di Indonesia Rp10.000. Mereka rasa ini enak," sebutnya. Harga itu pun lebih rendah daripada minyak sun flower yang dibanderol Rp22.000 per 0,6 liter.

Setidaknya, lanjut Sahad, G2G akan memakan waktu delapan bulan sehingga baru tahun depan industri bisa mengekspor minyak sawit untuk ritel.Selain itu, GIMNi juga telah melakukan perjanjian riset dengan peneliti setempat untuk melawan kampanye negatif.

"Jadi mereka akam membuat klinik tes dengan oramg bagaimana pengaruh minyak sawit ketika dimakan. Kami akan danai. Riset company disini sudah kami pilih. Kemudian riset itu nanti akan kami publikasikan sebagai informasi disini," katanya. Sahad optimistis hasilnya akan kelihatan delapan bulan lagi bisa tidaknya masuk ke pasar ritel Rusia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor cpo

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top