Efek Brexit, Indonesia Ambil Peluang Pacu Ekspor ke Inggris

Indonesia siap memanfaatkan posisi Inggris yang sedang mencari mitra dagang bilateral baru, seusai meninggalkan Uni Eropa.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  14:33 WIB
Efek Brexit, Indonesia Ambil Peluang Pacu Ekspor ke Inggris
Ilustrasi brexit - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA —Indonesia siap memanfaatkan posisi Inggris yang sedang mencari mitra dagang bilateral baru, seusai meninggalkan Uni Eropa.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih mengatakan, posisi Inggris yang akan meninggalkan Uni Eropa (UE) dalam peristiwa British Exit (Brexit) memunculkan peluang baru bagi Indonesia untuk menggelar pakta perdagangan bilateral baru. Pasalnya,

Indonesia belum memiliki pakta kerja sama dagang bilateral dengan negara Eropa, selain melalui Indonesia-Uni Eropa CEPA (IEU-CEPA) dan Indonesia-EFTA CEPA (IE-CEPA) yang saat ini masih proses negosiasi.

“Kami akan selalu mencari peluang yang ada untuk menjalin pakta dagang dengan negara mitra, terutama setelah Inggris nantinya keluar dari UE. Saat ini kami sudah menyiapkan sejumlah langkah ancang-ancang untuk mencari peluang kerja sama dengan Inggris,” katanya, kepada Bisnis.com melalui pesan singkat, Rabu (31/7/2019).

Dia mengatakan, saat ini Kemendag sedang menghimpun laporan secara mendetil mengenai kondisi terbaru dan potensi ekonomi yang dapat dikerja samakan dengan Inggris melalui Atase Perdagangan RI di London. 

Dia memperkirakan, dengan lepasnya Inggris dari UE, akan mempermudah proses negosiasi kerja sama dagang dengan negara tersebut. Dia pun juga mendengar, Inggris sedang berusaha mencari patner dagang di Asean untuk mengantisipasi proses perdagangan luar negeri negara tersebut, setelah keluar dari UE. 

Namun demikian, dia belum dapat menyebutkan, seperti apa bentuk kerja sama dagang dengan Negeri Ratu Elizabeth tersebut. Adapun, berdasarkan data Kemendag, nilai total perdagangan Indonesia dengan Inggris pada 2018 mencapai US$2,6 miliar atau naik dari tahun sebelumnya yang mencapai US$2,4 miliar.

Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan dengan Inggris pada 2018 sebesar US$252 juta, di mana ekspor RI mencapai US$1,46 miliar dan impor sebanyak US$1,21 miliar.

Ketua Komite Tetap Bidang Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono menyambut baik rencana pemerintah tersebut. Pasalnya, Inggris akan berusaha mencari pasar baru untuk mencukupi kebutuhan dalam negerinya yang selama ini diperoleh dari UE dan mitra dagang blok Eropa tersebut.

“Saya rasa produk tekstil dan makanan minuman bisa kita dorong ekspornya ke negara tersebut. Apalagi, status tarif perdagangan antara Inggris dan UE belum jelas sampai saat ini. Tentu Inggris akan menjadi pasar yang menjajikan untuk dibuka melalu kerja sama perdagangan bebas,” katanya.

Di sisi lain, dia juga memperkirakan, Inggris akan menjadi mitra yang tepat untuk melakukan kerja sama di bidang jasa keuangan. Untuk itu, dia menilai kemitraan dengan Inggris berbentuk kerja sama ekonomi komprehensif (comprehensive economi partnership agreement/CEPA) dapat menjadi pilihan tepat.

Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan, keluarnya Inggris dari UE bisa mendatangkan keuntungan sekaligus kerugian kepada eksportir Indonesia. Pasalnya, apabila Inggris memilih jalur hard Brexit untuk berpisah dengan UE, maka akan membuat eksportir Indonesia harus melakukan prosedur ekspor baru yang berbeda dengan yang telah dilakukan dengan UE selama ini.

“Artinya akan ada beban tambahan bagi eksportir untuk mengurus persyaratan dan tarif ketika mengekspor ke Inggris karena mereka bukan lagi bagian UE. Namun disisi lain, kondisi ini akan menjadi peluang bagi kita untuk mengajak negara itu melakukan kerja sama dagang bebas, sehingga memudahkan proses ekspor-impor Indonesia dari negara itu,” katanya.

Sementara itu, Pemerintah Inggris dikabarkan sedang menyasar negara-negara Asean, termasuk Indonesia, untuk dijadikan mitra dagang baru menjelang keluarnya negara tersebut dari UE pada 31 Oktober 2019.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan, Inggris sedang mencari peluang perdagangan baru dan hubungan diplomatik yang lebih kuat dengan negara-negara Asean. Hal itu akan disampaikannya dalam pertemuan menteri luar negeri anggota Asean, di Bangkok pada 29 Juli--1 Agustus 2019.

“Sudah terlalu lama, fokus perdagangan kami berada di Eropa. Kami merasa perlu memperluas jangkauan dan meningkatkan kapasitas perdagangan kita. Sebab langkah itu akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi Inggris di kancah global,” katanya seperti dikutip dari Reuters (31/7/2019).

Dia menambahkan, Asean merupakan pasar yang sangat menjanjikan bagi Inggris. Dia optimistis dengan peningkatan kerja sama dagang dengan negara Asean, maka nilai total perdagangan Inggris dengan Asean dapat meningkat dari tahun lalu yang mencapai US$43,80 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top