Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

RI, India, dan China Bisa Kolaborasi untuk Pimpin Industri Cold Chain di Asia

Berdasarkan data Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), rasio kapasitas cold storage terhadap jumlah penduduk di Indonesia 16 juta m3 untuk 260 juta penduduk, India 123 juta m3 untuk 1,2 miliar penduduk, dan China 81 juta m3 untuk 1,5 miliar penduduk.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  21:19 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia, India, dan China saat ini memimpin pasar industri pendingin di Asia. Ketiganya diharapkan berkolaborasi untuk menentukan teknologi masa depan.

Berdasarkan data Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), rasio kapasitas cold storage terhadap jumlah penduduk di Indonesia 16 juta m3 untuk 260 juta penduduk, India 123 juta m3 untuk 1,2 miliar penduduk, dan China 81 juta m3 untuk 1,5 miliar penduduk.

“Ketiga negara dapat menentukan teknologi ke depan yang tepat guna, mengingat demografi ketiga negara tersebut hampir sama,” kata Ketua ARPI Hasanuddin Yasni, Selasa (30/7/2019).

Bahkan, lanjut dia, Indonesia mempunyai kekayaan laut yang lebih besar dan pulau yang lebih banyak. Kebutuhan akan konektivitas antardaerah yang lebih tinggi memberi peluang bagi bisnis industri pendingin.

Gagasan itu sempat dikemukakan Hasanuddin dalam Konferensi Internasional Global Cold Chain Summit di Qing Dao, China pada 27-28 Juni, dan All India Cold Chain Seminar 12-14 Juli.

Namun, menurut dia, topografi lautan, daratan, dan pulau besar hingga kecil, dengan berbagai tipe area produksi, membuat biaya distribusi dan penyimpanan barang di Indonesia, terutama produk segar, masih lebih mahal dibandingkan dengan kedua negara lainnya.

Sebagai acuan, biaya distribusi produk segar nasional menggunakan transportasi udara berkisar Rp22.000-Rp30.000 per kg, transportasi darat Rp1.200-Rp1.500 per kg, dan transportasi laut Rp3.000-Rp4.500 per kg.

Khusus di wilayah Indonesia timur, industri penyedia energi alternatif menjadi tantangan tersendiri karena keterbatasan suplai listrik.

Sementara itu, India dan China menawarkan penggunaan alternatif energi dengan panel surya yang bisa di-switch ke listrik, menjadikan biaya energi untuk mendukung penyimpanan produk segar hanya separuh dari biaya di Indonesia.

India bahkan cukup baik dalam teknologi penyimpanan sepanjang tahun untuk produk kentang, tomat, dan bawang, yang membuat produk ini tersedia sepanjang waktu dan diandalkan untuk ekspor. Fluktuasi harganya pun cukup relevan kendati menghadapi cuaca ekstrem sekalipun.

Hasanuddin mengajak industri pendingin ketiga negara berkolaborasi sehingga negara-negara itu memandu teknologi dan pasar industri pendingin di Asia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rantai pendingin
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top