Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Himpunan Peternak Minta Pemerintah Tak Buka Keran Impor Bebek dari Malaysia

Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) meminta pemerintah untuk tidak membuka kembali keran impor daging bebek dari Malaysia menyusul adanya pengakuan bahwa produk unggas di negara tersebut telah terbebas dari avian influenza (AI) atau flu burung.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 22 Juli 2019  |  14:26 WIB
Peternak mengeluarkan bebek petelur dari kandangnya untuk digembalakan di area persawahan Desa Kwadungan, Kediri, Jawa Timur. - ANTARA/Prasetia Fauzani
Peternak mengeluarkan bebek petelur dari kandangnya untuk digembalakan di area persawahan Desa Kwadungan, Kediri, Jawa Timur. - ANTARA/Prasetia Fauzani

Bisnis.com, JAKARTA--Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) meminta pemerintah untuk tidak membuka kembali keran impor daging bebek dari Malaysia menyusul adanya pengakuan bahwa produk unggas di negara tersebut telah terbebas dari avian influenza (AI) atau flu burung.

Menurut Ketua Himpuli Ade M Zulkarnain, jika keran impor kembali dibuka, dikhawatirkan akan memukul peternakan bebek, khususnya peternak tradisional di dalam negeri.

“Himpuli mendesak Kementerian Pertanian untuk tidak memberi persetujuan impor daging bebek Malaysia,” katanya kepada Bisnis, Minggu (21/7/2019).

Ade menjelaskan saat ini, sudah ada importir asal kota Medan yang mengajukan permohonan impor daging bebek asal Perak, Malaysia.

Untuk itu, dia meminta agar Kementerian Pertanian selaku pihak yang berhak memberi rekomendasi untuk izin impor tidak menyetujui permintaan tersebut.

Ade menuturkan sejak ditutupnya keran impor daging bebek dari Malaysia pada kuartal pertama 2017 lalu, peternakan bebek dalam negeri tampak mulai bergairah yang ditunjukkan dengan perbaikan produksi. Adapun ditutupnya keran impor ini lantaran virus flu burung yang merebak di negara tersebut.

Dia mengungkapkan pada tahun lalu, produksi daging bebek dalam negeri mencapai 56.000 ton. Angka ini naik dari rata-rata produksi pada tahun-tahun sebelumnya yang tercatat hanya sebanyak 45.000 ton per tahun.

Namun, belakangan serapan pasar untuk daging unggas ini berkurang. Ade tidak merinci penyebab berkurangnya serapan pasar ini, tetapi pihaknya mencatat konsumsi selama 2018 hanya mencapai 52.000 ton. 

Selain itu, tekanan pun akan muncul dari sisi harga. Pasalnya, saat ini, harga bebek produksi dalam negeri tercatat mencapai 35.000 per kilogram (kg) dengan biaya produksi mencapai Rp30.000 per kg, sementara harga bebek impor asal Malaysia ditengarai hanya sekitar Rp30.000 per kg.

“Karena ini pasarnya terbatas, harusnya jadi porsi peternak lokal,” tegas Ade.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peternakan unggas
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top