Ekonom: Ekspor Nonmigas RI Hanya Bisa Tumbuh 4% Tahun Ini

Target pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 8% pada tahun ini terbilang tidak realistis.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 22 Juli 2019  |  12:45 WIB
Ekonom: Ekspor Nonmigas RI Hanya Bisa Tumbuh 4% Tahun Ini
KM Gunung tengah melakukan bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok. Kapal buatan galangan Meyer Werft, Jerman ini bisa mengangkut 98 TEUs kontainer di samping mengangkut penumpang. JIBI - Rivki Maulana

Bisnis.com, JAKARTA — Target pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 8% pada tahun ini terbilang tidak realistis.

Sekadar catatan, Kementerian Perdagangan menargetkan pertumbuhan ekspor nonmigas pada tahun ini mencapai 8% menjadi sebesar US$175,8 miliar secara year on year (yoy).

Target pertumbuhan ekspor nonmigas tersebut naik dari yang dipatok Kemendag sebelumnya pada Februari 2019, yakni tumbuh 7,5% atau menjadi U$175 miliar secara tahunan.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan, berdasarkan perhitungannya, pada 2019 kinerja total ekspor Indonesia memang minimal harus tumbuh 8%—9% secara tahunan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7%.

“Namun, melihat kondisi eksternal dan performa industri kita yang belum memadai saat ini, target pertumbuhan ekspor nonmigas yang realistis hanya 3%—4% secara tahunan. Perhitungan itu sudah memasukkan faktor perang dagang AS dan China yang sebenarnya kita tidak terpapar terlalu signifikan,” jelasnya kepada Bisnis.com, Mingggu (21/7/2019).

Dia menambahkan, proyeksi pertumbuhan ekspor nonmigas tahun ini yang hanya mencapai 3%—4% tersebut juga disebabkan oleh belum adanya faktor pendorong ekspor yang kuat sepanjang tahun ini.

Indonesia masih belum bisa mengurang ketergantungan dari kinerja ekspor komoditas seperti batu bara dan CPO yang harganya turun anjlok. Selain itu, produktivitas tenaga kerja Indonesia yang masih rendah, sehingga daya saing produk manufaktur RI di pasar global menjadi rendah.

“Pemerintah tidak perlu ragu merevisi target ekspor nonmigasnya tahun ini, karena hal itu merupakan kebijakan yang lumrah. Sebab, selain kendala dalam negeri tersebut, ekspor juga tergantung kepada permintaan luar negeri, yang memang sedang lesu,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menyatakan pesimistis target pertumbuhan ekspor nonmigas 8% pada tahun ini dapat tercapai. Pasalnya, pada paruh pertama tahun ini, kinerja ekspor sektor masih buruk.

“Kemungkinan pada semester II/2019 pun tidak akan berbeda jauh kinerja dan capaiannya. Sebab kita masih belum memiliki strategi yang jelas untuk mendongkrak ekspor, terutama dalam menghadapi kondisi perekonomian global pascaperang dagang AS dan China,” katanya.

Dia menambahkan, kebijakan pemerintah yang selama ini diterbitkan untuk mendorong kinerja ekspor nomigas pun belum berpengaruh secara signifikan lantaran sifatnya yang masih terlalu teknis. Kondisi itu berdampak kepada kemunculan dampak positifnya yang masih membutuhkan waktu.

“Kita juga sudah membuka pasar ekspor nontradisional. Namun seiring berjalannya waktu, kinerja dari pasar nontradisional belum bisa mengompensasi kehilangan potensi dari pasar negara tradisional,” ujarnya.

Untuk itu, dia memprediksikan laju pertumbuhan ekspor nonmigas pada tahun ini akan tumbuh 7% secara yoy atau hampir setara dengan capaian pada tahun lalu. Proyeksi itu pun menurutnya berada pada posisi yang paling optimistis, dengan catatan mendapatkan dorongan dari makin efisiennya ongkos produksi dalam negeri, sehingga produk ekspor RI dapat bersaing di pasar global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor nonmigas

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top