Dampak Perang Dagang, Ekonomi Singapura Berkontraksi Pada Kuartal II/2019

Ekonomi Singapura secara tak terduga berkontraksi pada kuartal kedua tahun ini, seiring dengan berlanjutnya penurunan ekspor di tengah ekonomi global yang memburuk.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 12 Juli 2019  |  08:46 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonomi Singapura secara tak terduga berkontraksi pada kuartal kedua tahun ini, seiring dengan berlanjutnya penurunan ekspor di tengah ekonomi global yang memburuk.

Seperti diberitakan Bloomberg, Jumat (12/7/2019), produk domestik bruto (PDB) Singapura turun pada tingkat tahunan sebesar 3,4 persen pada kuartal II/2019 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Perolehan tersebut berbanding terbalik dengan pertumbuhan sebesar 3,8 persen pada kuartal pertama dan proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg untuk ekspansi 0,5 persen.

Ketergantungan Singapura yang besar pada perdagangan serta integrasi yang rumit dalam rantai pasokan regional dan global membuatnya rentan terhadap perlambatan pertumbuhan dunia dan perang tarif.

Kinerja ekspor telah mendapat pukulan besar selama beberapa bulan terakhir, dengan membukukan penurunan terbesar sejak awal 2013 pada bulan Mei.

Sementara itu, manufaktur berkontraksi pada tingat tahunan sebesar 6 persen pada kuartal kedua dari kuartal sebelumnya. Konstruksi turun 7,6 persen setelah mampu berekspansi 13,3 persen pada kuartal pertama dan industri jasa menyusut 1,5 persen pada kuartal kedua.

"Saya pikir angkanya akan buruk, tapi ini jelek. Endusan resesi teknis itu nyata. Kami pikir itu mungkin dangkal, tetapi risikonya kini hal itu mungkin lebih dalam,” ujar Chua Hak Bin, seorang ekonom di Maybank Kim Eng Research Pte di Singapura.

Nilai tukar dolar Singapura pun melemah 0,1 persen ke level 1,3588 terhadap dolar AS setelah rilis data tersebut.

“Dengan lemahnya PDB kuartal II, ekonomi paruh kedua mungkin akan jauh lebih buruk tanpa pemulihan hubungan AS-China. Perkiraan kami untuk kontraksi 0,2 persen year-on-year pada 2019 masih tetap,” tutur Tamara Henderson, ekonom Bloomberg untuk Asean.

Di sisi lain, pemerintah memperkirakan ekonomi akan berekspansi 1,5 persen – 2,5 persen tahun ini, dibandingkan dengan 3,1 persen pada 2018.

Pekan ini, Menteri Perdagangan & Industri Chan Chun Sing mengatakan kepada parlemen bahwa para pejabat pemerintah akan merevisi proyeksi itu pada Agustus.

Menurut Chan, Singapura “ditempatkan dengan baik untuk menghadapi badai" mengingat fundamental ekonomi yang sehat, posisi fiskal yang kuat, dan kemajuan dalam restrukturisasi ekonomi.

Perundingan perdagangan AS-China yang tengah dimulai kembali tidak banyak membantu meyakinkan para ekonom bahwa ekonomi global dapat mengurangi perlambatan hingga akhir 2019 dan mungkin lebih jauh lagi.

Analis Morgan Stanley bulan lalu memangkas perkiraan pertumbuhan 2019 dan 2020 masing-masing sebesar 20 basis poin, menjadi 3 persen dan 3,2 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dapat mendorong bank sentral Singapura, Monetary Authority of Singapore (MAS), untuk mempertahankan kebijakan moneternya atau mungkin melakukan pelonggaran pada Oktober.

“Jika pada Oktober, ada resesi dan perang dagang AS-China masih gagal menemukan resolusi, MAS mungkin harus melonggarkan kebijakan,” tambah Chua dari Maybank.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi singapura

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top