Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rentetan Kecelakaan Konstruksi, Apa yang Salah?

Jalan tol menjadi salah satu proyek pembangunan yang paling masif dilakukan dalam masa pemerintahan Presiden Jokowi. Dalam targetnya, setidaknya ada 1.800 kilometer jalan tol baru yang ingin diselesaikan hingga akhir 2019.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  07:10 WIB
Sejumlah pekerja membersihkan material coran semen di lokasi ambruknya salah satu tiang penyangga proyek pembangunan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi IIIA simpang Yasmin-Semplak di jalan raya KH Sholeh Iskandar, Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/7/2019). - ANTARA/Arif Firmansyah
Sejumlah pekerja membersihkan material coran semen di lokasi ambruknya salah satu tiang penyangga proyek pembangunan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi IIIA simpang Yasmin-Semplak di jalan raya KH Sholeh Iskandar, Kelurahan Cibadak, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/7/2019). - ANTARA/Arif Firmansyah

Bisnis.com, JAKARTA — Tidak dipungkiri, proyek pembangunan infrastruktur di Indonesia berjalan secara masif, salah satunya adalah pembangunan jalan tol.

Jalan tol menjadi salah satu proyek pembangunan yang paling masif dilakukan dalam masa pemerintahan Presiden Jokowi. Dalam targetnya, setidaknya ada 1.800 kilometer jalan tol baru yang ingin diselesaikan hingga akhir 2019.

Masifnya pembangunan proyek jalan tol ini sangat memungkinkan diwarnai dengan adanya insiden-insiden kecelakaan kerja. Dari 2018 hingga saat ini sudah terjadi sejumlah kecelakaan kerja di proyek jalan berbayar tersebut.

Apabila dirunut, pada 2018 terdapat insiden ambruknya girder jalan tol Depok—Antasari, juga terjadi ambruknya konstruksi tiang kereta ringan (light rail transit/LRT) di Pulogadung. Dilanjutkan dengan insiden ambruknya crane proyek pembangunan rel dwiganda di Jatinegara, serta ambruknya tembok jalan lintas bawah (underpass) di Jalan Perimeter Soekarno Hatta serta runtuhnya tiang girder di proyek tol Becakayu.

Ketika memasuki 2019, terdapat insiden jatuhnya besi hollow pada proyek jalan tol Cimanggis—Cibitung.

Subuh hari kemarin (Rabu, 10/7/2019), terulang kembali kecelakaan kerja di proyek jalan tol, saat ambruknya tiang penyangga pada proyek jalan tol Bogor Ring Road (BORR) seksi 3A, tepatnya di Jalan Soleh Iskandar, Kayu Manis, Tanah Sareal.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Danang Parikesit mengatakan bahwa Kementerian PUPR telah meminta agar badan usaha jalan tol (BUJT) dan kontraktor pelaksana segera melakukan penyusunan langkah-langkah pengendalian dan terus berupaya dalam meningkatkan pengawasan pelaksanaan metode kerja dan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang ada.

Ditjen Bina Marga juga telah menerjunkan tim Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) untuk meninjau dan membahas secara langsung ke lokasi proyek jalan tol BORR Seksi 3A (Simpang Yasmin—Simpang Semplak).

BPJT juga akan lebih mengaktifkan konsultan PMI (Pengendali Mutu Independen) untuk memastikan kepatuhan badan usaha dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi.

Pengawasan internal dari BUJT pada kontraktor pelaksana juga harus terus dilakukan secara lebih ketat dalam pelaksanaan kegiatan konstruksi jalan tol guna menghindari berulangnya kejadian yang serupa.

Kecelakaan kerja tak hanya menyebabkan kematian, kerugian materi, moril, dan pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jalan tol bogor ring road (borr) kecelakaan konstruksi
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top