Menteri Jonan Dorong PLN Pelajari Sistem Kelistrikan China

Menteri ESDM Ignasius Jonan mendorong manajemen PT PLN (Persero) mempelajari sistem jaringan kelistrikan di China yang lebih efektif dan efisien, sehingga mudah dimanfaatkan oleh masyarakat dengan harga terjangkau.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 10 Juli 2019  |  14:05 WIB
Menteri Jonan Dorong PLN Pelajari Sistem Kelistrikan China
Menteri ESDM Ignasius Jonan memberikan kata sambutan pada pembukaan 2nd International Conference of Occupational Health and Safety, di Jakarta, Kamis (25/4/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, BEIJING -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mendorong manajemen PT PLN (Persero) mempelajari sistem jaringan kelistrikan di China yang lebih efektif dan efisien, sehingga mudah dimanfaatkan oleh masyarakat dengan harga terjangkau.

"Teman-teman harus banyak belajar di sini. Kenapa? Di sini susut jaringannya sekitar 6 persen, sedangkan kita di sana 9,2 persen," ujarnya seusai mengikuti Forum Energi Indonesia-China (ICEF) ke-6 di Beijing, Selasa (9/7/2019) malam.

Kehilangan energi dalam proses pengaliran energi listrik dari gardu induk ke pelanggan atau yang disebut susut jaringan mengakibatkan kerugian bagi PLN.

Dengan susut jaringan yang hanya 6 persen, harga jual listrik di China kepada konsumen jauh lebih murah dibandingkan dengan di Indonesia yang susut jaringannya mencapai 9,2 persen.

"Ini yang kita dorong. Kenapa kita tidak bisa? Lah wong teknologi yang digunakan sama," katanya.

Apabila susut jaringan di Indonesia turun tiga persen, dari 9 persen menjadi 6 persen, lanjut Jonan, tarif listrik di Indonesia bisa turun atau mungkin sama dengan di China yang terjangkau dan pasokannya lancar, sehingga sangat jarang terjadi pemadaman seperti di Indonesia.

Menurutnya, kelistrikan di China menggunakan semua potensi energi yang ada, termasuk angin, panas bumi, nuklir, gas, dan batu bara. Meskipun memiliki produksi batu bara yang melimpah, China tetap mengimpor dari Indonesia.

Dalam ICEF tersebut, Jonan juga berbicara mengenai kemungkinan mempelajari teknologi energi terbarukan yang lebih modern di China.

"Sistem grid [jaringan] kita banyak yang disebut belum smart grid, sehingga kalau menerima pembangkit renewable yang besar seperti air, panas bumi, dan angin, kita gelagapan karena memang sistem pengendalian transmisi distribusi kita tidak siap," tuturnya.

ICEF merupakan forum bilateral Indonesia-China yang digelar setiap dua tahun sekali. ICEF ke-5 digelar di Indonesia pada 2017.

Pada ICEF tahun ini di Beijing, Indonesia mengirimkan sedikitnya 50 anggota delegasi dari Kementerian ESDM, PLN, PT PGN Tbk., PT Pertamina (Persero), dan lain sebagainya untuk bertemu dengan mitra-mitranya dari China pada 8-10 Juli 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN, listrik, ignasius jonan

Sumber : Antara

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top