Perlambatan Pasar Properti Masih Terasa

Untuk perkantoran di kawasan non-CBD juga menunjukkan bahwa pasarnya belum mengalami pergerakan dengan ketiadaan tambahan pasokan. Pada kuartal II/2019, total pasok tercatat sebanyak 28 juta meter persegi, sementara serapannya pada kuartal ini hanya 2.300 meter persegi.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 03 Juli 2019  |  17:50 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bisnis properti pada kuartal II/2019 masih belum menggembirakan. Dampak Lebaran, pemilihan umum dan tahun ajaran baru dirasakan jadi penyebab.

Direktur dan Kepala Bidang Riset Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan bahwa pada kuartal II/2019 masih ada beberapa sektor properti yang tidak bertumbuh signifikan dan bahkan tidak bergerak.

Berdasarkan data Savills untuk kuartal II/2019, serapan di properti perkantoran kawasan Central Business District (CBD) masih minim dengan tingkat kekosongan yang masih mencapai 24%. Hal itu salah satunya disebabkan oleh ekspansi tenant yang masih terbatas, menantikan kepastian perekonomian di Indonesia.

“Saat ini memang posisi bawahnya sudah lewat, jadi permintaan tahun ini seharusnya sudah mulai meningkat karena pasokan [perkantoran] sudah banyak. Ini tidak lepas dari kondisi perekonomian tahun ini yang mempengaruhi ekspansi bisnis industri yang bergerak di Indonesia,” katanya belum lama ini.

Selain itu, untuk perkantoran di kawasan non-CBD juga menunjukkan bahwa pasarnya belum mengalami pergerakan dengan ketiadaan tambahan pasokan. Pada kuartal II/2019, total pasok tercatat sebanyak 28 juta meter persegi, sementara serapannya pada kuartal ini hanya 2.300meter persegi.

“Harusnya dengan suplai sebanyak itu harusnya demand-nya bisa lah tahun depan naik dua kali lipat. Kalau permintaannya bisa mengimbangi. Harusnya pasok yang ada bisa terserap,” sambungnya.

Selanjutnya dari sektor ritel, penyerapannya kuartal II/2019 sangat sedikit, hanya 1.700 meter persegi. Harga sewanya pun tidak ada perubahan, masih Rp350.000 per meter persegi per bulan. Hal itu juga tak hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia.

“Banyak kan department store yang tutup atau menyusutkan jumlah lahannya karena memang minat konsumen sudah bergeser. Dengan segala upaya yang dilakukan pengembang untuk memperbarui tampilan dan segala macamnya semoga tahun depan okupansi dan harganya bisa naik,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bisnis properti, pasar properti

Editor : M. Rochmad Purboyo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top