Bisnis Perhiasan, Ceruk Labanya Kian Menjanjikan

Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) Jeffrey Tumewa menyebutkan bahwa tren perhiasan masih begitu menjanjikan di dalam negeri.
Rayful Mudassir & Syaiful Millah
Rayful Mudassir & Syaiful Millah - Bisnis.com 30 Juni 2019  |  09:35 WIB
Bisnis Perhiasan, Ceruk Labanya Kian Menjanjikan
Pedagang menata perhiasan emas di sentral penjualan emas pusat Kota Lhokseumawe, Aceh, Senin (25/2/2019). - ANTARA/Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA – Produk perhiasan yang memiliki ciri khas Nusantara, tengah menjadi incaran kalangan menengah atas dari sejumlah negara. Selain harganya yang kompetitif dibandingkan dengan harga perhiasan dari negara lain, produk ini diminati sebagai penunjang gaya hidup sekaligus investasi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) Jeffrey Tumewa menyebutkan bahwa tren perhiasan masih begitu menjanjikan di dalam negeri.

Faktor gengsi dan status sosial turut memicu pasar perhiasan kian cemerlang ketika banyak kaum sosialita dari luar negeri berlomba untuk mendapatkan perhiasan mewah berlanggam tradisional ini.

Jeffrey optimistis industri perhiasan berdaya saing dan mampu meraih peluang pasar. Terlebih lagi, produk perhiasan khas Indonesia begitu luwes dipadankan dengan beragam jenis batu, mutiara, dan material lainnya.

Sebut saja beberapa importir perhiasan mulai dari Dubai, Uni Emirat Arab hingga Vietnam, dan India.

Importir dari sejumlah negara itu banyak memesan perhiasan dari dalam negari. Mereka membeli perhiasan dari Indonesia karena mengetahui bahwa biaya produksi yang lebih terjangkau dibandingkan dengan negara lain. Selain itu, pajak dari perhiasan Indonesia yang diekspor ke Dubai hanya dipungut 5%.

“Kami bisa ekspor, dan itu sama artinya dengan mendorong industri perhiasan serta bertumbuhnya usaha menengah kecil mikro [UMKM]. Hal ini karena bahan baku batu mulia, misalnya, tersedia di Indonesia, sehingga mereka bisa mengombinasikan antara batu dan emas yang bernilai tinggi,” ujarnya.

Beberapa perhiasan emas juga menggunakan motif batik yang khas, dan diselaraskan dengan batu.

PROSPEKTIF

Manajemen Lino & Sons, produsen perhiasan lokal, menilai bisnis perhiasan, khususnya emas, di dalam negeri dinilai sangat potensial dan besar. Ivan Lingga, Direktur Marketing Lino & Sons mengatakan, industri dan bisnis perhiasan dalam negeri masih terbilang prospektif karena didorong beberapa faktor.

Pertama, perhiasan emas dan berlian masih sangat laku di pasar negara-negara berkembang. “Ini kaitannya dengan nilai tukar mata uangnya terhadap dolar AS, terlebih lagi inflasi di negara berkembang bisa dibilang tinggi. Jadi emas dan juga perhiasan lainnya masih sangat diminati,” katanya.

Kedua, populasi penduduk di Indonesia yang sangat besar juga menjadi peluang pasar. Apalagi, saat ini masyarakat banyak yang masuk ke kelas menengah.

Ketiga, membeli emas dan perhiasan sudah menjadi budaya di masyarakat. Sejak dulu seluruh lapisan masyarakat diajarkan untuk membeli emas sebagai aset pelindung ketika membutuhkan dana.

“Jadi saya bilang ini menjadi salah satu faktor yang mendorong bisnis perhiasan sendiri bakal terus tumbuh,” ujarnya.

Lino & Sons sendiri saat ini menyediakan berbagai kategori produk perhiasan mulai untuk keperluan fesyen hingga keperluan lainnya seperti pernikahan (bridal).

Ivan mengatakan bahwa pihaknya memang mengusung tema everyday wear dan affordable luxury.

Untuk kapasitas produksi perhiasan, Ivan mengatakan bahwa Lino & Sons bukan menggunakan konsep stok (make to stock) melainkan pembuatan berdasarkan pesanan (make by order) yang disebutnya dapat mencapai ratusan hingga ribuan potong per bulan.

Sementara itu, untuk bersaing baik dengan merek lokal maupun internasional, Lino & Sons mengandalkan dua hal, yakni kualitas produk yang inovatif dan pelayanan maksimal untuk pelanggan.

“Untuk layanan misalnya, kami punya program pada setiap hari Sabtu, toko kami yang ada di Jakarta dan Bandung itu selalu ada desainer perhiasan. Jadi bisa customized, dan pelanggan bisa langsung konsultasi dengan yang membuat. Proses dapat dilakukan hanya dalam waktu 1 minggu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ivan mengungkapkan tantangan utama dalam bisnis perhiasan adalah harga bahan baku yang mahal. Dia mengharapkan, pemerintah dapat memberikan insentif untuk pembelian bahan baku baik itu lokal maupun impor sehingga bisa mendorong industri perhiasan dalam negeri.

Industri perhiasan merupakan lini bisnis yang berkaitan erat dengan komoditas emas sehingga pergolakan harga emas dunia akan memiliki andil dalam industri itu sendiri. Apalagi, saat ini harga emas tengah mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

Sementaara itu, Direktur Marketing UBS Gold Catur Limas mengatakan bahwa kendati harga emas tinggi, hal tersebut tidak serta merta menjadikan industri perhiasan dalam negeri akan merosot.

Menurutnya, memang ada kalanya industri dan bisnis perhiasan akan terkoreksi karena faktor harga komoditas. Akan tetapi, hal itu hanya merupakan dampak jangka pendek.

Justru apabila kenaikan tersebut terus terjadi, akan banyak masyarakat yang tertarik menjadikannya peluang investasi.

“Bisnis perhiasan pascalebaran ini sedikit terkoreksi akibat harga emas yang melambung tinggi sekarang, tetapi ini bukan berarti bisnis perhiasan itu tidak prospektif. Justru, kalau [harganya] naik terus, orang bakal beli karena percaya dengan emas dan perhiasan,” katanya.

Dia juga mengungkapkan bahwa produk perhiasan merupakan aset likuid yang selama 30 tahun terakhir tidak pernah sepi peminat, dan harganya terus naik.

Catur menjelaskan UBS Gold saat ini menyediakan semua jenis perhiasan yang bisa diproduksi, seperti kalung, gelang, anting, cincin, giwang, bros, dan lain-lain. Menurutnya, dari semua jenis perhiasan yang ada, gelang dan cincin merupakan produk yang paling banyak dibeli oleh masyarakat Indonesia.

UBS Gold, lanjutnya, menargetkan segmentasi pasar yang luas dari seluruh kalangan dengan menyediakan varian emas dan perhiasan yang lengkap. Saat ini, jumlah pangsa pasar terbesar untuk perhiasan adalah kelas menengah bawah.

“Untuk pasar perhiasan kami memang model piramida, jadi makin tinggi kadar emas atau harganya memang semakin sedikit jumlahnya [konsumen],” ujarnya.

Adapun, untuk menghadapi persaingan pasar perhiasan di dalam negeri, Catur menuturkan bahwa UBS Gold mengandalkan desain produk yang inovatif dan menarik.

Selain itu, UBS Gold juga selalu memadukan dua konsep dalam produk yang dihasilkan, yakni barat (Italia) sebagai kiblat perhiasan dunia dan konsep regional hingga lokal,

Catur menilai, industri perhiasan dalam negeri saat ini memiliki porsi yang bagus untuk para pemain lokal.

Dia mengungkapkan, produsen perhiasan lokal memiliki kualitas dan juga daya saing yang mumpuni, tidak hanya tingkat nasional tetapi juga bersaing di luar negeri. Namun, hal tersebut tidak lepas dari tantangan yang mengadang di depan mata.

“Tantangannya, kami harus terus berinovasi dan bisa membaca permintaan pasar,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perhiasan

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top