Indonesia Tingkatkan Kerjasama dengan Kota Penghasil Parfum di Prancis

Indonesia tingkatkan kerjasama dengan Grasse sebagai ibukota produsen parfum di Prancis.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 15 Juni 2019  |  10:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia tingkatkan kerjasama dengan Grasse sebagai ibukota produsen parfum di Prancis.

Grasse, secara tradisional mengimpor bahan baku minyak atsiri dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin  Nasution berkunjung ke Grasse, Prancis tanggal 13 Juni 2019 untuk bertemu Pemerintah Daerah dan importir minyak atsiri dan kopi.

Menko bertemu dengan Walikota Grasse, Asosiasi essential oil Prodarom, dan kelompok usaha dan industri Accords & Parfums, Pôle de Compétitivité, Mane, Robertet, Payan Bertrand, Bernardi, Tournaire, Firmenich, Asemer Demarest, SFA Romani, dan lain lain.

Konjen RI Marseille Asianto Sinambela dan Deputi Bidang Koordinasi Kerjasama Ekonomi Internasional, Rizal Affandi Lukman turut mendampingi kunjungan dalam fasilitasi pertemuan dengan Walikota Grasse, Jêrome Viaud dan kalangan usaha.

Dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis.com pada Jumat (14/6), hubungan kerjasama Grasse dengan Indonesia telah berjalan baik, khususnya komoditi minyak atsiri yang diserap industri parfum di Grasse.

Adapun kunjungan Pemerintah Indonesia untuk mendorong peningkatan kerjasama Indonesia dengan Grasse dalam hal ini promosi hubungan langsung produsen minyak nilam, serai wangi, kemenyan et kapur barus Indonesia dengan pelaku usaha dan industri Grasse.

Produsen di Indonesia menginginkan adanya kerjasama langsung ekspor ke Prancis dan memperoleh referensi teknologi yang dapat diterapkan untuk memenuhi standar kualitas industri parfum di Perancis. Terbuka kesempatan investasi proses produksi minyak atsiri di Indonesia.

Wali Kota Jêrome Viaud menyambut baik keinginan Indonesia untuk menjalin kerjasama dengan Grasse sebagai ibukota produsen parfum di Prancis, dan secara tradisional mengimpor bahan baku minyak atsiri dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Disamping minyak atsiri, komoditas kopi menjadi topik bahasan utama yang lain dalam pertemuan.  

Wali Kota Grasse, Jêrome Viaud juga menjamu delegasi Indonesia pada Cocktail Reception yang dihadiri oleh petinggi Komunitas Aglomerasi Pays de Grasse, Wakil Presiden Dewan Departemen Alpes Maritime, asosiasi Prodarom, perusahaan kopi Malongo, perusahaan Fragonard , SFA Romani, Accords & Parfums.

Presiden asosiasi Prodarom, Phillip Massè menanggapi bahwa raw material dari Indonesia sebagian besar diperoleh melalui negara ketiga, dan sebagian kecil lainnya diperoleh langsung. Sementara kerjasama sudah terjalin lama dan meningkat dalam 10 tahun terakhir.

Industri parfum Grasse membutuhkan data pendukung, baik kuantitas dan kualitas minyak atsiri Indonesia. Dengan demikian dapat dipetakan ketersediaan dan kebutuhan bahan baku dengan baik.

Wakil dari perusahaan kopi Malongo menyatakan keinginannya menjajaki MoU untuk pelatihan, pertukaran, seleksi  kopi organik. Malongo ingin membuka kerjasama ingin dengan produsen kopi Indonesia.

Menko Perekonomian Darmin memaparkan, Indonesia salah satu penghasil kopi terbaik di dunia. Sejak abad 19 telah dikenal kopi Mandailing dan Lingtong. Dalam tiga tahun terakhir, teknologi dikembangkan lebih baik dengan bibit kopi unggul yang pernah menjadi primadona dunia.

Di samping itu, Indonesia penghasil essential oil kualitas tinggi seperti Citronela (serai wangi), kemenyan, kapur barus dan minyak nilam.

Peluang pasar untuk produk-produk unggulan ekspor Indonesia di wilayah Grasse masih terbuka lebar, serta terdapat kebutuhan besar minyak atsiri dan kopi dari Indonesia yang dapat diserap di pasar Prancis Selatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
parfum

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top