Garuda Group Tidak Tambah Pesawat Hingga Akhir Tahun

Penurunan tarif batas atas (TBA) tiket rute domestik membuat maskapai harus lebih berhati-hati dalam membuat keputusan. Penambahan pesawat bisa berisiko menambah beban biaya operasional.
Garuda Group Tidak Tambah Pesawat Hingga Akhir Tahun Rio Sandy Pradana | 13 Juni 2019 20:19 WIB
Garuda Group Tidak Tambah Pesawat Hingga Akhir Tahun
Pesawat Citilink (atas) saat akan mendarat dan pesawat Garuda Indonesia yang akan lepas landas di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (18/2/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA--Garuda Indonesia Group menegaskan tidak akan melakukan penambahan pesawat hingga akhir tahun ini.

VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengatakan penurunan tarif batas atas (TBA) tiket rute domestik membuat maskapai harus lebih berhati-hati dalam membuat keputusan. Penambahan pesawat bisa berisiko menambah beban biaya operasional.

"Tahun ini tidak akan ada penambahan jumlah unit pesawat terbang dan akan fokus pada renegosiasi kontrak dengan lessor," kata Ikhsan, Kamis (13/6/2019).

Ikhsan menambahkan peremajaan tersebut diperlukan karena pesawat keluaran terbaru biasanya memiliki tingkat konsumsi bahan bakar lebih efisien. Dengan demikian, biaya operasional yang dikeluarkan maskapai bisa semakin ditekan.

Pihaknya menjelaskan komponen avtur menyedot hingga 40 persen dari total biaya operasional. Di sisi lain, pesawat edisi terbaru menawarkan teknologi baru yang semakin menambah tingkat keselamatan (safety).

Sebelumnya, Garuda sedang melakukan renegosiasi untuk mengganti pesawat yang sudah dipesan dengan jenis lebih baru, yakni Boeing 737 Max 10. Total ada 34 unit pesawat yang ditukar menjadi Boeing Max 10 pada 2020.

Boeing Max 10 menawarkan waktu terbang yang lebih lama, yakni hingga 9 jam. Sementara, Boeing Max 8 hanya mampu terbang maksimal selama 6 jam.

Emiten berkode GIAA ini juga mempertimbangkan untuk mengurangi atau bahkan menghapus beberapa rute yang tidak menguntungkan. Langkah ini ditempuh untuk mengurangi biaya operasional maskapai.

Di sisi lain, Garuda juga akan tetap menggenjot pendapatan tambahan (ancillary revenue). Beberapa usaha yang bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak pendapatan tambahan yakni fasilitas entertainment pada inflight WiFi, sales on board, hingga optimalisasi bisnis kargo.

Sementara itu, Sriwijaya Air Group, yang melakukan kerja sama operasi dengan Garuda Indonesia Group, akan melakukan penambahan jumlah pesawat dari 52 menjadi 55 unit selama 2-3 tahun ke depan. Penambahan tersebut juga akan diikuti dengan peremajaan pesawat yang berusia lebih dari 10 tahun, untuk diganti dengan usia di bawah 8 tahun.

Direktur Utama Sriwijaya Air Group Joseph A. Saul mengatakan peremajaan pesawat bisa menjadi salah satu faktor untuk menghemat biaya operasional. 

Selain itu, pihaknya akan mempertimbangkan untuk menutup dan mengurangi frekuensi beberapa rute penerbangan yang tidak prospektif seperti tujuan Bau-bau dan Merauke. Adapun, rute tujuan Banyuwangi juga sudah ditutup sebelumnya.

"Sebelumnya ada kompensasi [subsidi silang] yang diberikan untuk rute tersebut dari pendapatan rute padat. Sekarang sudah tidak bisa karena TBA [tarif batas atas] diturunkan," kata Joseph beberapa waktu lalu.

Joseph akan terus memantau perkembangan permintaan pasca masa angkutan Lebaran. Jika tidak mengalami penurunan signifikan, penutupan rute penerbangan tidak perlu dilakukan.

Pihaknya juga mengklaim mampu meraih tingkat ketepatan waktu terbang (on time performance/OTP) hingga 91 persen selama Mei 2019. Hal tersebut akan dijaga sebagai nilai tambah yang diberikan kepada penumpang.

Sriwijaya juga meningkatkan aspek keselamatan dan keamanan dengan memperkuat kerja sama dengan PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Tbk. sebagai penyedia sarana perawatan pesawat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garuda indonesia

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top