Mata Uang Korea Terhimpit Perang Dagang

Dampak rantai pasokan manufaktur global yang tertekan akibat perang dagang secara langsung telah melemahkan won Korea Selatan, mata uang di Asia yang paling rentan risiko, ke level terendah selama dua tahun terakhir.
Mata Uang Korea Terhimpit Perang Dagang Nirmala Aninda | 13 Juni 2019 11:09 WIB
Mata Uang Korea Terhimpit Perang Dagang
Bursa Korea Selatan - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Dampak rantai pasokan manufaktur global yang tertekan akibat perang dagang secara langsung telah melemahkan won Korea Selatan, mata uang di Asia yang paling rentan risiko, ke level terendah selama dua tahun terakhir.

Won telah turun hampir 6 persen terhadap sepanjang dolar tahun ini. Penyebab pelemahan won adalah kekhawatiran yang lebih luas terhadap pertumbuhan global dan pandangan yang berkembang bahwa Bank Korea harus segera menurunkan suku bunga untuk mendukung perekonomian.

Ketika ketegangan perdagangan meningkat di antara dua ekonomi terbesar dunia bulan lalu dan yuan China terancam akan jatuh melewati level 7 yuan per dolar, won telah merosot mendekati 1.200 per dolar, terendah sejak Januari 2017.

"Won seperti mata uang proxy tidak hanya bagi sentimen pertumbuhan global tetapi juga terkait dengan pembicaraan perdagangan AS-China," kata Park Sang-hyun, kepala ekonom di Hi Investment & Securities di Seoul, seperti dikutip melalui Reuters, Kamid (13/6/2019).

Menurut Park, akan sulit mempertahankan won pada level 1.250 per dolar AS jika ketegangan antara AS dan China terus meningkat di tengah ancaman kenaikan tarif.

Menurut ekonom di ING, kerusakan yang disebabkan oleh perang dagang dan melemahnya permintaan global akan menjadikan 2019 tahun terburuk untuk perdagangan sejak krisis keuangan satu dekade lalu, dengan pertumbuhan hanya sebesar 0,2 persen.

Ini akan menjadi pukulan kencang terhadap ekonomi yang sangat bergantung pada perdagangan seperti Korea Selatan, yang mata uangnya terus terbebani meskipun sudah ada intervensi verbal dan penyediaan likuiditas dolar oleh pihak berwenang.

Pelaku pasar percaya pemerintah Korea Selatan baru-baru ini telah menghentikan won agar tidak melewati batas 1.200 per dolar.

Seperti halnya pada 2015, won telah terbukti menjadi proxy yang paling berkorelasi dan likuid terhadap mata uang China. 

Kemudian, mata uang tersebut turun hampir 15 persen hanya dalam satu tahun terhadap dolar selama isu devaluasi yuan mencuat.

"Jelas won Korea cocok untuk perdagangan karena likuiditasnya dan karena itu jelas terkait dengan rantai pasokan," kata Claudio Piron, ahli strategi dengan BofAML di Singapura.

Dia memperkirakan won akan jatuh ke sisi yang lebih lemah dari 1.200 pe dolar AS jika tidak ada kesepakatan perdagangan dan dolar AS menguat di atas 7 yuan.

Produk semikonduktor Korea Selatan, segmen ekspor terbesarnya, akan menjadi salah satu sektor yang dirugikan oleh larangan AS terhadap raksasa telekomunikasi China, Huawei Technologies. China adalah mitra dagang terbesar Korea Selatan.

Ekspor semikonduktor Korea pada Mei anjlok 30 persen dari tahun sebelumnya yang penurunan terbesar sejak 2009, sementara surplus neraca berjalannya, sekitar 5 persen dari PDB pada tahun lalu, menyusut.

Untuk memperburuk keadaan, para manajer investasi telah menjual saham Korea Selatan karena mereka menyesuaikan kenaikan bobot ekuitas China dalam indeks pasar berkembang MSCI.

Sepanjang Mei lalu terhitung sekitar 2,5 triliun won atau senilai US$2,1 miliar dana non-residen ditarik keluar dari bursa saham utama Seoul.

KB Securities di Seoul memperkirakan, sebanyak US$3,5 miliar investasi pasif diperkirakan akan mengalir keluar dari total saham Korea sebagai hasil dari penyesuaian indeks MSCI tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
won

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top