Trump: AS Tidak Siap Menyusun Kesepakatan Dagang dengan China

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya tidak siap untuk membuat kesepakatan dagang dengan China.
Nirmala Aninda | 28 Mei 2019 09:52 WIB
Seseorang mengenakan kostum Kelinci Paskah terlihat ketika Presiden AS Donald Trump menghadiri Egg Roll 2019 Gedung Putih di Washington, AS, 22 April 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya tidak siap untuk membuat kesepakatan dagang dengan China.

"Mungkin sekarang mereka berharap menyetujui kesepakatan dagang yang dulu sebelum mencoba melakukan negosiasi ulang. Mereka [sekarang] ingin membuat kesepakatan dagang, namun kami tidak siap," ujar Trump pada sebuah kesempatan konferensi pers di Tokyo, seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (28/5/2019).

Trump juga mengatakan bahwa tarif impor AS terhadap produk China dapat mengalami kenaikan yang sangat substansial dengan cara yang sangat mudah.

Komentar tersebut dia lontarkan pascaperundingan dagang dengan Beijing yang menemui jalan buntu pada awal bulan ini. Sejak saat itu, kedua belah pihak secara bergantian menyalahkan satu sama lain, ditambah lagi dengan ancaman tarif baru terhadap produk impor China lainnya.

Menurut Trump, pelaku bisnis sudah mulai meninggalkan China dan berpindah ke negara bebas tarif, termasuk AS dan negara tetangga Asia lainnya seperti Jepang.

Meski demikian, dia menyatakan sikap optimismenya bahwa kedua ekonomi terbesar dunia tersebut pada akhirnya akan mencapai sebuah kesepakatan.

"Saya pikir, suatu saat di masa depan, China dan AS akan memiliki kesepakatan dagang yang luar biasa. Saya sangat menantikan saat itu. Karena jujur saja, saya tidak percaya China mampu membayar tarif ratusan miliar dolar secara ters menerus," ungkap Trump.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang menanggapi komentar Trump dan mengutip bagaimana Washington kerap kali berubah pendirian terkait potensi tercapainya sebuah kesepakatan.

"Pada saat yang sama, pendirian kami tidak pernah berubah. China selalu percaya bahwa perbedaan antara dua negara tentu saja harus diselesaikan melalui konsultasi dan negosiasi yang bersahabat," ujar Lu.

Pada akhir pekan, China mengesampingkan persepsi bahwa tarif Trump akan melukai ekonomi negaranya.

"Dampak tarif yang lebih tinggi akan sangat terbatas. Sebaliknya justru merugikan bagi AS," menurut Guo Shuqing, Kepala Regulator Perbankan dan Asuransi China.

Guo adalah pejabat keuangan China berperingkat tertinggi yang secara terbuka mengomentari kebuntuan perdagangan sejak perundingan dagang mengalami perlambatan.

Sebuah komentar yang diterbitkan oleh kantor berita Xinhua, menuduh AS telah mengkambinghitamkan China karena ketidakseimbangan perdagangannya dan bahkan beberapa masalah ekonomi domestik.

"AS berusaha untuk memeras kesepakatan perdagangan yang tidak adil dari China, menggunakan langkah-langkah seperti kenaikan tarif dan menargetkan perusahaan-perusahaan teknologinya," tulis Xinhua.

Wacana anti-AS kembali meningkat di China sejak pembicaraan dagang gagal serta penetapan sanksi black list terhadap Huawei Technologies Co. dan sejumlah afiliasinya awal bulan ini dalam upaya untuk menghalangi aksesnya ke pasar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top