Industri Petrokimia Butuh Tambahan Investasi

Industri petrokimia dalam negeri membutuhkan tambahan investasi karena hingga saat ini produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan, terutama di sektor hulu.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  09:50 WIB
Industri Petrokimia Butuh Tambahan Investasi
Petugas melakukan pemeriksaan dan perekaman data di pabrik butadiene di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), di Cilegon, Banten, Kamis (19/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Industri petrokimia dalam negeri membutuhkan tambahan investasi karena hingga saat ini produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan, terutama di sektor hulu.

Fajar Budiyono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), menuturkan bahwa kebutuhan nafta industri dalam negeri masih sepenuhnya dipenuhi dari impor. Kilang minyak milik Pertamina sebenarnya menghasilkan nafta, tetapi digunakan sebagai campuran bahan bakar minyak, yaitu jenis Premium dan Pertalite.

“Agar seimbang dengan kebutuhan industri saat ini, butuh investasi 3 kilang lagi dengan kapasitas produksi masing-masing 300 barrel per hari, ini baru imbang dan belum bisa ekspor,” ujarnya, Rabu (22/5/2019).

Dia pun menyambut baik rencana Pertamina untuk investasi senilai US$50 miliar dengan membangun kilang BBM dan petrokimia. Dengan investasi ini, kapasitas kilang BBM akan meningkat dari 1 juta barrel per hari menjadi 2 juta barrel per hari, sedangkan BBM yang dihasilkan naik dari 680.000 barrel per hari menjadi 1,7 juta barrel per hari. Produk petrokimia juga akan meningkat 11 kali menjadi 6,6 juta ton per tahun.

Selain nafta, untuk produk turunannya, yaitu polymer juga masih kurang atau sekitar 50%-nya diimpor. Fajar menyebutkan untuk polietilena kebutuhan mencapai 1 juta lebih, sedangkan apabila fasilitas produksi milik Chandra Asri mulai beroperasi pada Desember nanti produksi mencapai 1,2 juta ton per tahun.

Untuk polipropilena, produksi dalam negeri saat ini baru sekitar 800.000 ton per tahun, sementara kebutuhan mencapai 1,7 juta—1,8 juta ton per tahun. “Investasi Lotte Chemical dan Chandra Asri baru selesai 2023, masih kurang. Tambahan produksi keduanya nanti baru menahan supaya impor tidak naik,” jelasnya.

Untuk menarik lebih banyak investor di sektor petrokimia, Fajar menuturkan dunia usaha menunggu insentif berupa super deductible tax untuk vokasi dan kegiatan research & development, setelah pemerintah mengeluarkan insentif pajak berupa tax holiday dan tax allowance. Selain itu, dia berharap sistem online single submission (OSS) segera dibenahi kekurangannya sehingga memudahkan investasi.

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga harus diperhatikan pemerintah, karena bisa mendorong kenaikan impor dari China selain membuka peluang ekspor produk Indonesia ke Amerika Serikat.

“Produk plastik yang sebanyak 117 HS butuh perlindungan, apalagi bea masuk antar negara Asean 0%, tolong diantisipasi melalui instrument. Bisa juga lewat standar teknis atau kehalanan karena halal tidak hanya untuk makanan, food packaging-nya juga perlu.”

Masalah sampah plastik juga perlu perhatian untuk mendorong investasi di sektor petrokimia. Dia menilai manajemen sampah di dalam negeri harus diperbaiki dan industri daur ulang plastik diberi insentif agar bisa berkembang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri petrokimia

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top