PLTP Muaralaboh di Sumatra Barat Beroperasi Komersial Akhir 2019

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Muaralaboh Unit I berkapasitas 80 MW di Sumatra Barat ditarget beroperasi komersial atau commercial operating date (COD) paling lambat pada akhir 2019 setelah melakukan eksplorasi selama kurang lebih satu tahun.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 22 Mei 2019  |  17:22 WIB
PLTP Muaralaboh di Sumatra Barat Beroperasi Komersial Akhir 2019
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Muaralaboh Unit I berkapasitas 80 MW di Sumatra Barat ditarget beroperasi komersial atau commercial operating date (COD) paling lambat pada akhir 2019 setelah melakukan eksplorasi selama kurang lebih satu tahun.

Potensi panas bumi di wilayah kerja panas bumi Muaralaboh sebenarnya jauh lebih besar daripada pembangkit yang akan dipasang. Adapun wilayah kerja panas bumi (WKP) Muaralaboh memiliki potensi 220 MW.

Vice President Relations and Safety Health Environment Supreme Energy Prijandaru Effendi mengatakan konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muaralaboh ditarget paling lambat selesai pada September 2019. Nilai investasi yang dikeluarkan untuk pembangunan PLTP Muara Laboh adalah sekitar US$600 juta.

Eksplorasi sendiri telah dilakukan sejak Mei 2017 dengan rangkaian kegiatan pemboran sumur produksi dan sumur injeksi, pembangunan fasilitas lapangan, dan pembangkit listrik. PLTP Muaralaboh akan menyalurkan listrik ke PT PLN (Persero) berdasarkan kontrak jual beli listrik selama 30 tahun.

"Konstruksi power plant yang kita targetkan September harus selesai, harus sudah mengalir ke PLN mudah-mudahan kalau gak ada halangan," katanya, belum lama ini.

Supreme Energy menarget PLTP Muara Laboh akan mampu mengalirkan listrik ke 120.000 rumah tangga yang ada di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.

Menurutnya, pembangkit lain yang akan ditarget beroperasi selanjutnya yakni PLTP Rantau Dedap di Sumatera Selatan pada Agustus 2020 dengan kapasitas 90 MW. Ekplorasi pada wilayah kerja panas bumi (WKP) Rantau Dedap telah dilakukan sejak 2014. Nilai investasi untuk pembangunan pembangkit tersebut yakni sebesar US$700 juta.

Sementara, PLTP Rajabasa belum bisa ditarget kapan akan beroperasi. Namun, berdasarkan hasil eksplorasi, kapasitas pembangkit PLTP Rajabasa adalah sebesar 80 MW lebih rendah dari perkiraan potensi sebelumnya yang sebesar 220 MW. "Tetapi kita ada unit selanjutnya ekstension, akan masuk ke area berikutnya," katanya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menarget tiga pembangkit geotermal berkapasitas total 180 MW akan beroperasi komersial pada 2019. Saat ini pemanfaatan kapasitas total terpasang energi panas bumi di Indonesia adalah sebesar 1.948,5 Mega Watt (MW).

Adapun tiga pembangkit geotermal tersebut yakni pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Muaralaboh unit I berkapasitas 80 MW, PLTP Sorik Merapi unit I berkapasitas 45 MW, dan PLTP Sokoria unit I berkapasitas 5 MW.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
listrik, panas bumi

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top