Substitusi Impor & Hilirisasi Solusi Perbaikan Neraca Dagang

Pengembangan industri substitusi barang impor dan hilirisasi produk kelapa sawit dapat menjadi kunci dalam menekan defisit transaksi berjalan akibat performa neraca perdagangan yang memburuk.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  09:34 WIB
Substitusi Impor & Hilirisasi Solusi Perbaikan Neraca Dagang
Arif Budimanta, Anggota KEIN. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pengembangan industri substitusi barang impor dan hilirisasi produk kelapa sawit dapat menjadi kunci dalam menekan defisit transaksi berjalan akibat performa neraca perdagangan yang memburuk.

Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan, memperbaiki defisit neraca perdagangan dapat dilakukan dengan mendorong ekspor dan menahan impor.

"Untuk mendorong ekspor dapat dilakukan dengan meningkatkan volume perdagangan dan atau mengubah harga relatif komoditas ekspor," ujar Arif di kantor KEIN, akhir pekan lalu.

Adapun, upaya menekan impor bisa dilakukan dengan mengembangkan industri substitusi barang impor.

Arif mencontohkan ketergantungan ekspor Indonesia terhadap minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sangat besar. Padahal, nilai tambahnya kecil dan harganya cenderung rentan dipengaruhi kondisi pasar.

Dari data KEIN, nilai tambah CPO hanya 0 persen per ton. Sementara itu, crude palm kernel oil (CPKO) nilai tambahnya hanya 14 persen per ton dan minyak goreng sawit sebesar 35 persen per ton. Produk-produk itulah yang dominan diekspor Indonesia.

Sementara itu, produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi adalah surfaktan dan kosmetik. Surfaktan adalah campuran yang dipakai untuk kegiatan optimalisasi sumur minyak tua (enhancement oil recovery/EOR).

Dari data KEIN, nilai tambah produk ini bisa mencapai 366 persen per ton dari nilai minyak sawit mentah, sementara kosmetik nilai tambahnya hingga 522 persen.

"Karena nilai tambah begitu tinggi, Uni Eropa mempermasalahkan sustainability sawit kita," kata Arif.

Pasalnya, produk dari minyak sawit untuk campuran biodiesel dan industri makanan serta produk turunan lainnya dinilai paling kompetitif dari segi harga dan pasokan.

Oleh karena itu, KEIN mendorong hilirisasi sawit perlu digencarkan ke depannya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah dari CPO sehingga memacu kinerja ekspor Indonesia.

"Maka arah industrialisasi harus dikembangkan ke arah produk yang memiliki nilai tambah tinggi," tegas Arif.

Dalam mengembangkan industri substitusi impor, KEIN menilai investasi langsung untuk industri substitusi impor harus didorong. Caranya melalui insentif fiskal dan kemudahan perizinan bagi industri substitusi impor.

Sejak 2016, pertumbuhan impor kembali lebih tinggi daripada pertumbuhan ekspornya. Ketergantungan terhadap impor bahan baku industri menjadi penyebab utama tingginya pertumbuhan impor Indonesia.

Dari catatan KEIN, impor bahan baku dan penolong, terutama bahan baku olahan untuk industri dan bahan bakar dan pelumas olahan, memiliki kontribusi terbesar terhadap impor dan kontribusinya terus meningkat. Keduanya memiliki kontribusi sekitar 46,93 persen dan 14,51 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan, ekspor, impor

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top