China Ajukan Tiga Syarat Kesepakatan Dagang

Nirmala Aninda | 13 Mei 2019 08:26 WIB
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping saat bertemu di KTT G20 di Hamburg, Jerman, pada 8 Juli 2017. - Reuters/Saul Loeb

Bisnis.com, JAKARTA - Untuk pertama kalinya, China secara gamblang menjelaskan apa yang mereka inginkan dari Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang dagang.

Dalam sebuah wawancara dengan media China, Wakil Perdana Menteri Liu He mengatakan bahwa untuk mencapai kesepakatan, AS harus menghapus semua tarif tambahan, menetapkan target pembelian barang China sesuai dengan permintaan riil, dan memastikan isi dari perjanjian sifatnya adil dan tidak akan melukai martabat negara.

Tiga syarat yang dinyatakan oleh Lie tersebut menggarisbawahi sejumlah isu yang masih harus diatasi untuk mencapai kesepakatan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.

Negosiator AS yang mewakili Presiden Donald Trump, di sisi lain mengatakan bahwa China hanya diberikan waktu satu bulan untuk menyepakati sebuah perjanjian dagang atau harus menerima implementasi tarif tambahan untuk seluruh pengiriman ekspor ke AS.

"Daftar barang tambahan yang akan dikenakan tarif baru akan kami rilis Senin (13/5/2019), dengan nilai pada kisaran US$300 miliar," ujar Perwakilan Peradagangan AS Robert Lighthizer seperti dikutip melalui Bloomberg (13/5/2019).

Menurut sejumlah pejabat tinggi AS, langkah Trump untuk menaikkan tarif pada akhir pekan lalu terjadi setelah China diduga mundur dari komitmen yang dijanjikan pada perundingan sebelumnya.

Selama pertemuannya di Washington pekan lalu, Liu mengatakan China siap berkomitmen untuk mendorong reformasi melalui arahan Dewan Negara China, tetapi sekali lagi menolak untuk mengubah regulasi apapun terkait perdagangan, menurut satu orang sumber yang paham dengan isi negosiasi.

Dalam wawancaranya, Liu mengatakan kedua belah pihak sepakat untuk terus melakukan negosiasi meski dia menyebut adanya beberapa perlawanan dan gangguan sementara. Dia menolak gagasan bahwa pembicaraan telah gagal.

Menurutnya, situasi di mana sebuah negosiasi tersendat itu adalah hal yang normal dan tidak dapat dihindari. Liu juga memberikan pernyataan yang cukup keras untuk memperkokoh posisi China dalam perundingan dagang tersebut.

"Demi kepentingan rakyat China dan AS serta seluruh dunia, kami akan mengatasi hal ini secara rasional. Tapi kami tidak takut, demikian pula dengan rakyat China. Yang kami inginkan adalah kesepakatan yang adil dan bermartabat," ungkap Liu.

Kemajuan pada proses perundingan yang berjalan lamban memicu pertanyaan sampai kapan pasar global harus menanggung ketidakpastian dagang yang disebabkan oleh persaingan pada satu rantai pasokan terbesar yang paling berpengaruh di dunia.

Trump, yang mengharapkan kesempatan kedua untuk memimpin AS pada 2020 mendatang berupaya mencari pembenaran untuk menaikkan tarif serta meyakinkan bisnis dan pasar keuangan bahwa dia tidak akan mundur untuk mencapai perjanjian dagang.

Menurut Ely Ratner, Direktur Studi pada sebuah think tank Center for a New American Security (CNAS), mengatakan bahwa peluang untuk mencapai sebuah kesepakatan perdagangan kemungkinan akan menjadi semakin sulit, kecuali jika faktor eksternal seperti pelemahan ekonomi yang lebih dalam, akan memaksa kedua negara untuk berkompromi

"Pertanyaannya, apakah China mampu kembali dan memberikan penawaran yang cukup menarik bagi Trump? Saya rasa akan sedikit sulit selama prosesnya terus terulur lama, dan semakin rumit secara politik bagi Trump," kata Ratner.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup