Triniti Land Garap Apartemen Menengah Atas di Batam

Pembangunan apartemen di Batam akan terdiri atas lima distrik dan terbagi dalam tiga fase. Setiap fase ditargetkan untuk rampung dalam periode 4 hingga 5 tahun dengan total GDV senilai Rp5 triliun – Rp7 triliun.
Mutiara Nabila | 13 Mei 2019 16:27 WIB
Triniti Land - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pengembang properti Triniti Land berencana untuk mulai mengembangkan properti skala besar di Batam. Adapun, pasar kelas menengah atas akan menjadi sasaran utama.

Presiden Direktur Triniti Land Ishak Chandra mengatakan bahwa tahun ini pihaknya akan berfokus pada pengembangan di Batam bertajuk Marcs Boulevard dengan konsep pembangunan mixed-use di atas lahan seluas 23 hektare.

Selain itu, rencananya pembangunan di Batam akan terdiri atas lima distrik dan terbagi dalam tiga fase. Setiap fase ditargetkan untuk rampung dalam periode 4 hingga 5 tahun dengan total Growth Development Value (GDV) senilai Rp5 triliun – Rp7 triliun.

“Meski baru akan dilaunching Agusutus, kami sudah melakukan pre-sale sekarang dan sudah terjual sekitar 40 persen – 50 persen,” ungkap Ishak dalam konferensi pers, Minggu (12/5/2019).

Adapun, produk di Batam kali ini, Triniti Land menyasar kalangan menengah atas, dimulai dengan harga Rp400 juta. Ishak menyebutkan, pengembangan di Batam akan memiliki konsep space for living, sehingga difokuskan untuk hidup dan bukan untuk investasi saja.

“Jadi misal kebanyakan pengembang bangun di Batam itu apartemen yang kecil-kecil, di sana kita bangun apartemen yang lebih besar, yang lebih luas. Yang lain bangun dengan fasilitasnya sedikit, kita bangun fasilitasnya banyak. Orang bangun high rise, kita bangun low rise. Orang bangun kecil kita bangun yang besar,” jelasnya.

Kemudian, setelah mulai melakukan prapenjualan, Ishak menyebut, serapan apartemen besutannya justru lebih banyak di kisaran harga Rp1 miliar. Sedangkan, untuk produk penthouse sudah habis sebanyak 2 tower dengan harga terendah Rp2 miliar.

“Mayoritas orang ambil justru yang Rp4 miliar – Rp5 miliar. Fase pertama kami kondovila dan shophouse itu dari 240 unit, kita baru launch 130 unit, dan sudah terserap sampai kemarin sudah sekitar 50 unit. Memang kelihatannya sedikit, tapi valuenya sudah 40 persen-50 persen, karena banyak ambil yang harga tinggi,” sambungnya.

Menurutnya, meskipun kelihatannya pasar properti menengah ke bawah sedang naik daun, tapi bukan berarti produknya diambil oleh pasar yang dari kalangan menengah ke bawah pula. Pasar itu, katanya, sebenarnya diambil oleh kelas menengah atas.

“Jadi dulu, ketika mereka punya uang Rp5 miliar, Rp4 miliarnya buat properti. Kalau sekarang paling hanya Rp2 miliar yang dibeliin properti. Kalau dulu cuma beli satu, sekarang jadi tiga empat properti [dengan harga yang lebih murah], karena mereka mencari likuiditas. Mencari yang gampang dijual,” paparnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
apartemen mewah, properti batam

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup